== [ Close Klik 2x ] ==
Selamat Datang
Selasa , 17 Juli 2018

Andai Dibaca Sampai Pagi, Nabi SAW Mengatakan : “Niscaya Kau Lihat Malaikat tanpa Penghalang.”

malaikat 1_panggilan dari surau

PANGGILAN dari SURAU – Malam itu, salah seorang sahabat Nabi yang bersuara merdu Usaid bin Hudhair membaca Alquran.  Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan bahwa yang dibaca adalah surat Al-Baqarah.

Oleh Usaid, cerita ini disampaikan kepada Muhammad bin Ibrahim, bahwa di dekatnya ada kuda yang ditambatkan.  Namun di tengah-tengah bacaan, tiba-tiba kuda yang tertambat itu tadi berputar-putar.

Ingin mengetahui penyebabnya, sebagaimana dikisahkan pula kepada Yazid bin al-Hadad dari Muhammad bin Ibrahim, Usaid pun berhenti seraya melakukan pengecekan. Rupanya, ia tak mendapati apa pun yang menyebabkan kudanya berputar-putar. Dan, saat Usaid menghentikan bacaannya, kudanya tenang kembali.

Maka, sebagaimana dikisahkan dari al-Laits dari Yazid bin al-Hadad, Usaid pun melanjutkan bacaannya. Ketika itu, kudanya kembali berputar-putar. Kemudian, Usaid pun menghentikan bacaannya. Seperti terulang, kudanya pun kembali tenang. Berkali-kali begitu; kudanya berputar saat Usaid membaca al-Qur’an, dan kembali tenang ketika ia menghentikan bacaan.

Sebab anaknya yang bernama Yahya tidur di dekat tambatan kudanya, Usaid pun menghentikan bacaan. Kemudian, dia melihat ke langit. Di sana, ia melihat cahaya putih seperti lampu yang bergerak ke atas, hingga menghilang.

Pagi harinya, Usaid menghadap kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk mengadukan apa yang ia alami. Beliau bersabda, “Bacalah, wahai Ibnu Khudhair! Bacalah, wahai Ibnu Khudhair!”

Usaid bin Khudhair menjawab, “Ya Rasulullah! Anakku berada di dekat kuda itu dan aku khawatir kuda itu mencederainya. Maka, kubawa ia, lalu kudongakkan kepalaku ke langit dan kulihat awan bergumpal di langit seperti cahaya lampu-lampu, kemudian aku pun segera pergi.”

“Tahukah engkau, apa itu?” tanya Nabi.“Tidak, ya Rasulullah.” jawab Usaid.

Nabi SAW bersabda, “Mereka itu adalah para malaikat yang datang mendekatimu karena mendengar suaramu (membaca Al-Qur’an). Dan seandainya kamu tetap membaca Al-Qur’an hingga datang waktu fajar, maka awan itu akan tetap tinggal di situ hingga pagi hari seakan-akan tidak akan lenyap, dan niscaya manusia akan dapat melihat malaikat tersebut tanpa terhalang.

 

Baca Juga :   Biasa Pakai Kaos Hina Islam, PRIA AMRIK INI MENANGIS SAAT MASUK MESJID

Keutamaan Baca Alquran

Hadits di atas mengindikasikan betapa agung keutamaan dan fadhilahnya orang yang membaca Al-Qur’an, lebih-lebih membaca pada waktu malam hari dan dibaca pula dengan suara yang merdu seperti Usaid bin Khudhair. Di kalangan sahabat ia memang dikenal memiliki suara yang merdu.

Selanjutnya orang atau kelompok yang suka membaca dan mempelajari Al-Qur’an, mereka akan mendapatkan suatu kedamaian batin (sakinah) dan rahmat Allah pun akan menaungi suatu majelis yang di dalamnya dibaca dan dipelajari Al-Qur’an. Hal itu sebagaimana keterangan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim sebagai berikut:

Rasulullah SAW bersabda, “Suatu kaum tidak berkumpul di rumah dari beberapa rumah Allah untuk membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya melainkan sakinah (ketenangan) turun kepada mereka, rahmat menutupi mereka, dan malaikat menyelimuti mereka bahkan Allah selalu meridhainya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Dalam Islam kedengkian atau sikap iri terhadap suatu nikmat yang dimiliki orang lain merupakan akhlak tercela (madzmumah). Tapi ada dengki dan iri yang diperbolehkan, salah satu dengki yang tidak dilarang tersebut  adalah iri atau dengki pada orang yang dikaruniai kepandaian Al-Qur’an dan mampu mengamalkannya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak boleh dengki kecuali kepada dua orang: Yaitu seseorang yang kepadanya Allah mengajarkan Al-Qur’an dan ia membacanya kala siang dan malam dan tetangganya yang mendengarkannya berkata, ‘seandainya diberikan kepadaku apa yang telah diberikannya si fulan, maka aku akan melakukan apa yang dilakukan si fulan’ dan seseorang yang Allah memberikan kepadanya kekayaan dan ia membelanjakannya dengan adil dan benar, sehingga orang yang melihatnya pada berkata, ‘seandainya diberikan kepadaku apa yang diberikan kepada si fulan, maka aku akan melakukan apa yang dilakukan si fulan’. (HR. Bukhari). (pds)

 

M Haromain, Depertemen Ta’lim wa Lughah di Pesantren Nurun ala Nur Bogangan Wonosobo

via nu online, wartaislami.com, indahnya hidupislami.blogspot.co.id