Senin , 19 Agustus 2019

APA ITU PUASA 6, Bolehkah Tidak Berurutan?

Ilustrasi. foto dream.co.id


PANGGILAN dari SURAU
– Dari Sahabat Abu Ayyub Al Anshori رضي اللّـہ عنہ, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa 6 hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” [HR Muslim]

Dalil ini yang dibuat pijakan kuat jumhur (mayoritas) ulama tentang kesunnahan menjalankan puasa 6 hari di bulan syawal. Lebih utama dilakukan berurutan mulai tanggal 2 syawal, dan boleh dilakukan secara tidak berurutan asalkan masih masuk dalam bulan syawal.

Al Imam an Nawawi berkata, ”Para ulama mazhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut sehari setelah shalat ’Idul Fithri (tanggal 2 syawal). Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan. Karena seperti itu pun disebut menjalankan puasa enam hari Syawal setelah Ramadhan.” [Syarh Shahih Muslim]

Di kalangan mazhab Hanbali kurang lebih sejalan dengan pendapat kalangan Syafi’iyah di atas, yang menjadi perbedaan ada pada pendapat ulama syafi’iyah yang berpendapat lebih afdhol disambung beiringan mulai 2 syawal. Tetapi secara umum mereka tetap menghukumi puasa syawal sebagai sunnah.

Sedangkan Imam Malik dan Imam Abu Hanifah berpendapat berbeda.

Baca Juga :   Kapan Waktu yang Disunnahkan untuk Memulai Puasa Syawal ?

Beliau Imam Malik memakruhkan menjalani puasa syawal dengan argument Beliau tidak mengetahui bahwa para salaf melakukannya, serta agar tidak memberi prasangka akan wajibnya puasa tersebut.

الموطأ
1103 – ﻭﻗﺎﻝ ﻳﺤﻴﻰ: ﺳﻤﻌﺖ ﻣﺎﻟﻜﺎ ﻳﻘﻮﻝ، ﻓﻲ ﺻﻴﺎﻡ ﺳﺘﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺑﻌﺪ اﻟﻔﻄﺮ ﻣﻦ ﺭﻣﻀﺎﻥ: ﺇﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺮ ﺃﺣﺪا ﻣﻦ ﺃﻫﻞ اﻟﻌﻠﻢ ﻭاﻟﻔﻘﻪ ﻳﺼﻮﻣﻬﺎ. ﻭﻟﻢ ﻳﺒﻠﻐﻨﻲ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ اﻟﺴﻠﻒ. ﻭﺇﻥ ﺃﻫﻞ اﻟﻌﻠﻢ ﻳﻜﺮﻫﻮﻥ ﺫﻟﻚ، ﻭﻳﺨﺎﻓﻮﻥ ﺑﺪﻋﺘﻪ. ﻭﺃﻥ ﻳﻠﺤﻖ ﺑﺮﻣﻀﺎﻥ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ، ﺃﻫﻞ اﻟﺠﻬﺎﻟﺔ ﻭاﻟﺠﻔﺎء. ﻟﻮ ﺭﺃﻭا ﻓﻲ ﺫﻟﻚ ﺭﺧﺼﺔ ﻋﻨﺪ ﺃﻫﻞ اﻟﻌﻠﻢ. ﻭﺭﺃﻭﻫﻢ ﻳﻌﻤﻠﻮﻥ ﺫﻟﻚ.

Sedangkan di kalangan Ulama Mazhab Hanafi terjadi khilafiyah tentang menafsirkan pendapat Imam Abu Hanifah.

Di dalam kitab “Majmu’ Syarhul Muhadzab” diterangkan bahwa Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa puasa syawal tidak disunahkan bahkan hukumnya makruh. Tetapi pendapat ini disanggah oleh golongan muta’akhirin hanafiyah, diantaranya di dalam kitab “Tahrirul Aqwal fi Shoumis Sitti Min Syawwal” yang dinukil di dalam Hasyiyah Ibnu Abidin bahwa Imam Abu Hanifah tidak mutlak berpendapat puasa syawal adalah makruh.

Diambil dari pendapat Abu Yusuf, bahwa puasa Syawal tetap sunah tetapi makruh jika disambung beriringan mulai 2 Syawal. Kemudian pendapat dari golongan muta’akhirin Hanafiyah lainnya mereka sepakat bahwa puasa syawal tetap hukumnya sunah, baik disambung dengan 1 Syawal atau tidak. (pds)

sumber pondok habib