== [ Close Klik 2x ] ==
Selamat Datang

Begini Akhlak Tukang Tambal Ban di Tarim

Para santri yang menuntut ilmu di kota Tarim, Yaman.
Para santri yang menuntut ilmu di kota Tarim, Yaman.

 

Ini kisah seorang santri asal Indonesia yang menuntut ilmu di kota Tarim, Hadramaut, Yaman.  Betapa Kota yang sering disebut kota seribu wali itu dihuni oleh penduduk yang sesuai dengan julukan di atas.

 

PANGGILAN DARI SURAU – Tahun pertama berada di kota Tarim Hadramaut. Seperti biasanya kembali dari Majelis Alallamah Alhabib Ali Masyhur bin Muhammad bin Salim bin Hafidz bin Syekh Abibakar bin Salim di Darulfaqih saya kembali ke Aidid menggunakan sepeda motor. Kurang lebih perjalanan 3 km dari Darulfaqih. Malam itu sudah menunjukan pukul 21.15.

Sesampai di Masjid Ba’alawi, depan Darulfaqih, ban belakang  motor yang saya kendarai bocor. Saya memutuskan untuk meninggalkan motor di samping Masjid Ba’alawi. Dan saya balik jalan kaki saja karena malam itu tak mungkin ada bengkel yang buka.

Saya berjalan sedikit sampai Masjid Jami’ Tarim dan bertemu anak muda mengendarai motor menawarkan numpang ke Aidid bersamanya, dan sayapun naik dengannya.

Siang hari setelah solat zuhur di Masjid Jami’ saya ke Darulfaqih di samping Masjid Ba’alawi tempat di mana motor semalam diparkir.  Dan alangkah terkejutnya, saya jumpai motor sudah ditambal, dan siap untuk dipakai kembali, Subhanallah. Dalam hati terucap siapa gerangan yang melakukan ini? Saya kembali ke Aidid dengan tanda tanya di kepala.

Baca Juga :   Bayi yang Selalu Menumpahkan Khamr Milik Ayahnya

Tiga hari kemudian saya lewat kembali di depan Masjid Ba’alawi .  Saya melewati seorang yang berusia kira kira 60 tahun, dia tersenyum setelah menjawab salamku. Setelah saya perhatikan, ternyata dia memiliki bengkel yang kecil di samping tempat motor bermalam. Sungguh malam itu saya tak mengetahui kalau di situ ada bengkel. Sayapun berkeyakinan bahwa dialah yang menambal ban saya tempo hari. 

“Ya Syekh apakah Anda yang menambal motorku ini 3 hari lalu itu?”

Dia menjawab “Iya.”

“Masya Allah saya tak mengetahui kalau di sini ada bengkel, malam itu sudah tutup semua, berapa biaya tambalnya?”

Dia tersenyum dan mengatakan biasanya tambal ban 300 reyal yamani. Setiap ada motor rusak bermalam di sini paginya saya perbaiki, sehingga pemiliknya tinggal ambil dan bayar.

Sayapun mengeluarkan uang 300 reyal. Tapi beliau menolaknya, mengapa?

Dia mengatakan, “Aku sudah berniat sedekah setelah kau ambil motormu dan sekarang jangan kau bayar. Jika kau bayar maka sama saja kau menghapus sedekahku.” Dengan penuh senyuman beliau menyapa dan saya hanya bisa berterimakasih padanya. Subhanallah…..itulah akhlak-akhlak mulia yang dimiliki penduduk Tarim.

Ya Tarim wa ahlaha….. (pds)

 

sumber islamuna.info Googlenya Aswaja