== [ Close Klik 2x ] ==
Selamat Datang

Berkah Pekik Takbir “Allahu Akbar”, SAAT DIPINDAH DARI JEDDAH JENAZAH BUNG TOMO MASIH UTUH

Bung Tomo, saat rapat akbbar di Mojokerto. Foto mendhur, ipphos via abepoetra.wordpress.com/m.tempo.co
Bung Tomo berpidato dalam sebuat rapat akbar di Mojokerto 1947. Foto Mendur, IPPHOS


PANGGILAN dari SURAU
– Tidak banyak yang mengetahui kalau jenazah Bung Tomo yang dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Ngagel Surabaya itu dulunya pernah diangkut dari Jeddah, Saudi Arabia.

Pahlawan Nasional Bung Tomo wafat pada 7 Oktober 1981, pada usia 61 tahun,  saat menunaikan ibadah haji di Padang Arafah. Sempat dimakamkan di sana, namun 4 bulan kemudian, pada Rabu, 3 Februari 1982, jenazahnya dipindahkan ke Pemakaman umum Ngagel, Surabaya setelah negosiasi panjang dengan pemerintah Arab Saudi.

Tokoh sentral perlawanan rakyat Surabaya melawan penjajah Belanda itu bisa dipulangkan setelah melalui proses lobi yang panjang.

“Jadi, memang dalam sejarah kita, hanya jenazah Bung Tomo satu-satunya yang bisa dibawa pulang. Itu pun delapan bulan setelah meninggal, setelah mantan perdana menteri pertama RI M Natsir selaku ketua Rabithah Al Islami menyurati langsung kepada raja Arab Saudi saat itu agar jenazah Bung Tomo bisa dibawa pulang,’’ ujar Pengamat penyelenggaraan haji, Mohammad Subarkah sebagaimana dilansir jpnn.com, selasa (27/10/2015).

Berdasar cerita putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo, lanjut Barkah, saat itu pemerintah Indonesia sampai mengirim pakar forensik Mun’im Idris untuk mengidentifikasi jenazah Bung Tomo.

Terlahir dengan nama asli Sutomo (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920), Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Ia mendapat gelar pahlawan nasional bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2008.

Dalam pertempuran di Surabaya itu, Bung Tomo salah satu aktor pengobar semangat Jihad para pejuang.  Dia  sukses membakar semangat rakyat Surabaya melawan penjajah. Bung Tomo  memang dikenal jago orasi. Melalui kanal Radio Republik Indonesia (RRI) dia dorong gelora perlawanan pejuang di Surabaya. “Allahu Akbar! Merdeka!” Itulah pekik keramat yang disisipkan Bung Tomo dalam pidatonya.

Baca Juga :   Gara-Gara Lelaki yang Dimuliakan ini, Rasulullah pun Mendapat Teguran
Bung Tomo saat mengobarkan semangat para pejuang Surabaya dengan pekik takbir terkenalnya Allahu Akbar. foto historia.id
Bung Tomo saat mengobarkan semangat para pejuang Surabaya dengan pekik takbir terkenalnya Allahu Akbar. foto historia.id

Seruan Bung Tomo tersebut menjadi pengobar semangat jihad bagi kaum Muslimin di Surabaya dan sekitarnya untuk bahu-membahu menghadapi musuh bangsa.

Siaran radio Bung Tomo pada seputar Pertempuran Surabaya 10 November 1945 menjadi kenangan Moechtar, mantan Pemimpin Redaksi  Panjebar Semangat, majalah berbahasa Jawa yang terbit di Surabaya ketika itu.

Moechtar, saksi sejarah yang masih hidup (usianya kini 90 tahun),  menggambarkan, siaran itu dimulai dengan memutar lagu berjudul Tiger Shark. Lagu ini karya Peter Hodykinson yang dinyanyikan oleh kelompok Hawaiian Islanders.

Menurut Moechtar,  setelah intro Tiger Shark, suara berganti ke teriakan Bung Tomo memuji kebesaran Tuhan.  “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar,…” Lalu, suara berapi-api Bung Tomo bergema. Suara lantang berpidato ala Bung Karno inilah yang menurut Mochtar, menjadi daya tarik.

Banyak orang yang merinding mendengarkan Bung Tomo membakar semangat para pejuang. “Saya saja merinding mendengarkannya,” kata Moechtar.  Menurut dia, tema besar pidato Bung Tomo tiap hari tentang melawan penjajahan.  Materinya berbeda, bergantung pada situasi yang terjadi saat itu.

Menurut  Moechtar, siaran itu adalah siaran langsung, bukan dari hasil rekaman yang diputar ulang.  Yang menunjukkan siaran itu merupakan siaran langsung, Bung Tomo menyampaikan perkembang terakhir, yang dari hari ke hari berbeda situasinya. “Memang isi pokoknya adalah mengajak pemuda dan rakyat Indonesia untuk bersatu dan tidak gentar melawan penjajah,” kata Moechtar.

Sebelum mengakhiri pidato, kata Moechtar, Bung Tomo kembali meneriakkan, “Allahu Akbar…” Setelah suara Bung Tomo hilang, lagu Tiger Shark kembali terdengar. Lagu ini sekaligus menutup mata acara siaran pidato Bung Tomo.

Ini kronologi pemindahan jenazah Bung Tomo dari Jeddah ke Surabaya sebagaimana dirangkum dari kliping Harian Suara Merdeka edisi lawas: ……………..