== [ Close Klik 2x ] ==
Selamat Datang

Imam Syafi’i Pernah Diusir Imam Maliki Gara-gara tidak Punya Alat Tulis

Syafi'i masih kecil, usia 12 tahun, ketika berguru kepada Imam Maliki di Madinah. - foto ilustrasi, captured from
Syafi’i masih kecil, usia 11 tahun, ketika berguru kepada Imam Maliki di Madinah. – foto ilustrasi, captured from “Imam Shafi’i: Life of The Four Imams.

 

PANGGILAN dar SURAU – Imam Assyafii rahimahullah seorang yang miskin ketika berumur 11 tahun dibawa oleh ibunya ke kota Madinah dan diantar belajar dengan Imam Malik rahimahullah. Ketika sesi pengajian, Imam syafi’i meletakkan jari kanannya ke mulut lalu digerak-gerakkan di telapak tangan kirinya seumpama menulis hadits-hadits yang dibaca oleh Imam Malik.

Jari kanannya seumpama pena sementara air liurnya seumpama dakwat . Perbuatan Imam Syafi’i selepas 2-3 kali belajar tidak disenangi oleh Imam Malik. Beliau menyangka Imam Syafii bermain-main ketika belajar , lalu Imam Malik memanggil Imam Syafii dan berkata ..”Selepas ini jangan kau hadir lagi ke kelas pengajianku.” lmam Syafii bertanya, ” Mengapa Wahai Guruku ? ” dijawab oleh Imam Malik..

“Engkau bermain-main dengan jarimu seakan menulis, kenapa engkau tidka langsung membawa pena dan kertas?”
Taku akan dikeluarkan dari kelas pengajian Imam Malik, Syafii pun berterus terang,  “Wahai Guruku , Aku tidak mampu untuk memiliki pena dan kertas tetapi aku mampu membaca hadits-hadits yang telah Tuan Guru ajarkan kepadaku .”

“Wahai Guruku , Aku tidak mampu untuk memiliki pena dan kertas tetapi aku mampu membaca hadits-hadits yang telah Tuan Guru ajarkan kepadaku .”

 

Setelah diizinkan oleh gurunya, maka Imam Syafi’i membaca semua hadits-hadits yang telah diajarkan oleh Imam Malik.  Sang Imam sangat tersentuh melihat keikhlasan dan dan kehebatan Syafi’i lalu mendekatinya dan memberi penghormatan.

Makam Imam Syafi'i rohimahullohu ta'ala. Adapun tiang marmer yang berada di sebelah makam adalah tempat yang paling disukai oleh beliau semasa hidup. Bahwa tiang tersebut merupakan tempat Imam Syafi'i bersandar kala beliau mengajar.
Makam Imam Syafi’i. Tiang marmer di sebelah makam adalah tempat yang paling disukai beliau untuk menyandarkan tubuh saat mengajar.

 

Keistimewaan Lainnya

 

Antara keistimewaan Imam Syafi’i lainnya, bahkan mengatasi ulama lain di zamannya adalah : Jikalau diumpamakan beliau seorang mekanik, beliau adalah ibarat seorang yang sangat pakar menggunakan instrumen2 (ilmu2) yg sesuai dan tepat dalam mengendalikan maslahah ummah dan menentukan hukum.

Adapun ramai ulama-ulama yg lain yg jauh lebih alim pada zamannya memiliki jutaan hafalan hadis, tafsir Quran & pelbagai ilmu yg banyak, namun gagal memahami malah menguasai ilmu setara beliau.

Baca Juga :   Baru Terungkap, Siapa Jemaah Haji yang Thawaf Sambil Berenang

Menyadari kehebatan yg dimiliki beliau, seorang ulama yg hebat menyarankan agar beliau menyiapkan satu kitab muktabar bagi memudahkan panduan para mujtahid dalam menerbitkan hukum. Maka, terbitlah sebuah karya fenomenal beliau, Kitab Ar Risaalah.

Kekuatan ingatan Imam Syafii : boleh mengulangi kelas pengajian Imam Malik yang dihadirinya tanpa tertinggal satu patah perkataan pun.

Selain hafal Quran pada umur 9 tahun,  Syafi’i juga hebat dalam bersyair. Dia berguru kepada seorang tokoh penyair terkemuka, Mas’ab bin Zubair. Syafi’i akhirnya sukses menghafal 10.000 rangkap syair kaum Bani Huzail.

Seluruh pelosok jazirah Arab datang untuk mendengar suara Syafi’i membaca Al-Quran.  Sehingga dikatakan siapa yang susah menangis akibat kerasnya hati,  dianjurkan untuk pergi dan mendengar bacaan Imam Syafie di Kaabah, pasti menangis. Itu karena dia membaca dari hati yang ikhlas dan bersih.

Sewaktu sudah mencapai usia 15 tahun, secara resmi, dia  ditunjuk menjadi Mufti Mekkah.  Padahal sebelumnya, dia boleh mengeluarkan fatwa sewaktu berumur 10 tahun.

Syafi’i pernah pergi mengambil potongan-potonga roti yang tidak habis dimakan oleh orang kaya di Baghdad, lantaran  kehidupannya yang miskin.

Imam Syafi’i pernah menyelesaikan 30 juz Al-Quran di dalam 2 rakaat Solat Sunat Tahajud. Pada Rakaat pertama 15 juz, sisanya 15 juz di rakaat kedua.

Dengan banyaknya ilmu Imam Syafi’i berkata, “Tiap-tiap kali bertambah ilmu,  maka semakin bertambah aku tahu bahwa aku ini orang yang jahil.”

Ulama lain pernah meriwayatkan,  “Imam Syafi’i dapat menguraikan 100 simpulan masalah hanya di dalam satu hadits saja.” (pds)

 

sumber Zafrullah Zafrullah (FB)