Kamis , 16 Agustus 2018

Ini Sebabnya, Kenapa Pemberontak Gagal Jatuhkan Erdogan

Ini sebabnya kenapa para pembenrontak militer gagal melakukan kudeta di Turki. Mereka hanya bisa menguasai objek-objek vital selama 4 jam sebelum akhirnya mendapat perlawanan rakyat dan para tentara loyalis Erdogan.

 

Masyarakat menduduki tank yang digunakan militer untuk melakukan kudeta di Turki. Foto EPA
Masyarakat menduduki tank yang digunakan militer untuk melakukan kudeta di Turki. Foto EPA

 

PANGGILAN dari SURAU – Komplotan pendukung kudeta Turki pasti berharap  kejutan pada Jumat (15/7), menguntungkan mereka. Kecepatan aksi militer yang dikerahkan di kota-kota besar dan menguasai objek vital nasional menunjukkan kualitas pengorganisasian dan efisiensi kinerja mereka. Dalam situasi yang masih terus berkembang, ada sekitar 90 warga sipil meninggal dunia, 134 orang terluka, dan 1374 militer pro kudeta telah ditangkap.

Namun, Pengamat Politik Internasional Arya Sandhiyudha mengatakan, segala upaya kudeta kian melemah. “Saya sendiri sejak awal menduga peluang gagal sangat tinggi karena beberapa hal,” kata Doktor Bidang Ilmu Politik dan Hubungan Internasional dari Universitas Fatih, Turki, tersebut pada Ahad (17/7).  

Meski berhasil mengendalikan transportasi dan infrastruktur utama, Arya mengatakan ada sejumlah hal yang membuat kudeta Turki gagal.  Berikut di antaranya: 

Polarisasi Faksi

Seperti yang ketika pemilu Turki tahun 2015, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) memenangkan 49,5 persen suara. Namun negara ini sangat terpolarisasi antara kaum Sekuler, Islamis, Kurdi dan Nasionalis.

Turki memiliki sejumlah  oposisi terhadap Islam yang menentang agenda politik berhaluan neo-Ottoman dalam arah kebijakan luar negeri Erdogan, tapi di sisi lain mereka pendukung Presiden yang absah secara demokratis.  

Selain itu, ada banyak orang Turki yang anti-Erdogan belum tentu juga pro-kudeta, karena mengingat trauma ketidakstabilan ekonomi dan politik di masa lalu ketika kudeta terjadi di Turki. Upaya kudeta in jelas merupakan produk dari faksi elit dalam militer yang nampaknya tidak sukses untuk menjalankan kudeta. 

Dukungan Masyarakat

Demokrasi telah menggariskan bahwa yang akan menentukan siapa yang keluar sebagai pemimpin di Turki adalah rakyat. Counter Coups mendukung Erdogan bergerak cepat dan massif, dan mereka keluar rumah pada dini hari mengungkapkan dukungan untuk presiden dan partainya.

Baca Juga :   ASTAGHFIRULLAH, BAITULLAH TERNODA DI BULAN RAMADHAN. Seorang Lelaki Bunuh Diri, Terjun dari Lantai 3

Militer dikerahkan untuk melakukan pendudukan dan pengamanan di tempat-tempat umum utama seperti Taksim Square, tapi sekarang kehadiran aksi balasan lebih luas dan kuat. Polisi anti huru hara juga telah bergabung dengan para demonstran aksi balasan, menembakkan senjata di udara dan meminta tentara untuk meninggalkan tempat. 

Meski militer menembaki demonstran di Jembatan Bosporus, mereka yang menghasut kudeta jelas malah makin kehilangan dukungan publik. Hal unik, Erdogan meskipun Presiden masih menjadi magnet gerakkan rakyat lawan kudeta di jalanan. 

Militer juga salah kalkulasi saat menduduki tempat strategis. TV nasional dikuasai, namun lupa provider satelitnya ada di tempat lain. Setelah siaran, _blackout!_ Respon cepat kepala cabang AKP Istanbul juga menentukan. Ia pergi ke saluran TV swasta menyerukan warga untuk “menolak kudeta dan menuju ke bandara untuk menyambut kedatangan Erdogan.” Laporan terakhir menunjukkan bahwa pemerintah telah direbut kembali kontrol televisi negara.

Soliditas Keamanan Nasional

Terakhir, kudeta yang sukses membutuhkan soliditas pasukan keamanan. Di Turki, tanda-tanda konflik di antara berbagai lapisan militer ternyata masih eksis. Diantara buktinya, diduganya Muharrem Kose sebagai aktor utama kudeta.

Sebelumnya, ditunjuknya Panglima Militer baru Umit Dundar menggantikan Hulusi Akar, juga mengindikasikan itu. Helikopter pro-kudeta yang menyerang kantor Badan Intelijen Nasional Turki (MIT), diindikasikan sebab Kepala MİT Hakan Fidan merupakan orang kepercayaan Erdogan, sebagaimana Menhan Fikri Işık. Belum lagi Kepolisian yang berperan sebagai ujung tombak penangkapan militer pro-kudeta. Maknanya aktor keamanan nasional terbelah. 

Hal lain, tidak bisa dinafikkan, pernyataan sikap anti Kudeta dan dukungan terhadap pemerintahan sipil demokratis dari Amerika Serikat dan Jerman di awal juga partai-partai dan kelompok oposisi sangat berperan bagi gagalnya kudeta.

Secara internasional, mungkin dampak dari langkah normalisasi dengan beberapa negara seperti Israel dan Rusia. Seakan merefleksikan back to indepth strategy-nya Ahmet Davutoglu, mantan Menlu Turki dan mantan Perdana Menteri Turki. (pds)

sumber republika.co.id