== [ Close Klik 2x ] ==
Selamat Datang

Ini Rupanya Ceritanya, KENAPA JAMAAH INDONESIA SELALU DIPANGGIL “SITI RAHMAH”

Untuk menarik minat pembeli, para pedagang di seputaran Mekkah, sering memanggil jamaah haji wanita Indonesia dengan sebutan Siti Rahmah.  Bukan lantaran hobi belanja hingga dipanggil demikian, melainkan…

 

Para pedagang di Mekkah dalam musim haji tahun 1953 - foto putramelayu.web.id
Para pedagang di Mekkah dalam musim haji tahun 1953foto putramelayu.web.id

 

PANGGILAN dari SURAU – Orang Indonesia di mata warga Saudi dianggap berkelakuan baik. Ada panggilan masyhur dari para pedagang di Mekkah ataupun Madinah untuk perempuan Indonesia, Siti Rahmah.

Siti Rahmah adalah panggilan yang paling banyak diteriakkan para pedagang di Tanah Suci, baik di Makkah maupun Madinah, terhadap para wanita Indonesia, baik saat haji maupun umroh. ”Siti Rahmah… Siti Rahmah, harga murah, homsah (lima) real……. !” kata mereka untuk menarik para pembeli wanita.

Sebutan ”Siti Rahmah” untuk wanita Indonesia saat beribadah ke Tanah Suci bukan hanya muncul akhir-akhir ini. Teriakan semacam itu sudah muncul sejak lebih seabad lalu.

 

Asal Mula Panggilan Siti Rahmah

Sejak abad ke-18 orang Betawi telah banyak yang menunaikan ibadah haji. Meskipun untuk menunaikan rukun Islam kelima itu mereka harus menempuh perjalanan berbulan-bulan dengan kapal layar.

Setelah menjalankan ibadah haji, ada yang pulang dan ada yang bermukim di sana. Mereka yang bermukim menggunakan al Betawi sebagai nama keluarga.

Memang merupakan kebiasaan para pemukim dari Nusantara di Mekkah menjadikan nama kota asalnya sebagai nama keluarga. Syekh Abdul Somad al Falimbangi dari Palembang. Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Banjarmasin, Syekh Basuni Imam al Sambasi dari Sambas (Kalimantan Barat).

Pada awal abad ke-19 seorang ulama Betawi bernama Syekh Djunaid bermukim di Mekkah. Ia pun memakai nama Syekh Djunaid al-Betawi.

Baca Juga :   MENDAPATKAN HAJI MABRUR, Meski Tukang Sol Sepatu ini tidak Berhaji

Ia amat termasyhur karena dipercaya menjadi Imam Masjidil Haram. Dia juga mengajar agama Islam di serambi masjid tersebut.

Muridnya bukan hanya dari Nusantara, tapi juga umat Islam dari berbagai belahan dunia. Konon, Syekh Djunaid yang telah kesohor di Negeri Hijaz itu mempunyai istri bernama Siti Rahmah.

Diduga, itulah asal mulanya, sehingga sejak ratusan tahun lalu wanita Indonesia yang beribadah ke Tanah Suci selalu dipanggil dengan panggilan akrab,  ”Siti Rahmah…!”. Panggilan ini populer hingga sekarang, meski zaman telah berubah dan para keluarga Betawi menamakan putra-putri dengan nama modern.

 

Deretan Ulama Indonesia di Saudi

Syekh Djunaid mulai bermukim di Mekkah sejak 1834. Salah seorang putrinya menikah dengan Imam Mudjitaba yang diberi gelar waliullah oleh masyarakat Islam di Tanah Suci.

Orang Betawi berguru kepadanya ketika ia bermukim di Mekkah selama 40 tahun. Di antara muridnya adalah Guru Mansyur dari Jembatan Lima (Jakarta Barat) dan Guru Mugni dari Kuningan, dekat perumahan Pertamina. Guru Mujitaba kembali ke Betawi pada 1904.

Tokoh satu angkatan dengan Syekh Djunaid adalah para mukiman Indonesia yang bukan saja terkenal di dalam negeri tapi juga di manca negara, seperti Syekh Abdul Somad al-Falimbangi, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710-1812), Syekh Ahmad Ripangi (1786-1859), lahir di Kendal, Jawa Tengah, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (1860-1916) Mukimin Indonesia yang paling kesohor di dunia Islam adalah Syekh Nawawi al-Bantani. Ulama besar, penulis dan pendidik dari Banten. (pds)

sumber republika.co.id