== [ Close Klik 2x ] ==
Selamat Datang

Inilah Hukum Menghidupkan MALAM NISFU SYA’BAN (Bag 2)

nisfu syaban 2_panggilan dari surau

Berikut adalah tulisan lengkap tentang keutamaan Malam Nisfu Sya’ban yang ditulis oleh Al Habib Ahmad bin Novel bin Salim bin Ahmad bin Jindan. Dimuat dalam 3 (tiga) tulisan bersambung, dan ini bagian 2.

 

 

DI ANTARA hadits kemuliaan malam nisfu sya’ban adalah yang diriwayatkan oleh Al Bazar dan Imam Baihaki dari Sayyidina Abu Bakar As Shiddiq bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wasallam bersabda,

ينزل الله إلى السماء الدنيا ليلة النصف من شعبان فيغفر لكل شيء إلا لرجل مشرك أو رجل في قلبه شحناء

Allah Subhanahu wa ta’ala turun ke langit dunia ini dengan menurunkan rahmat-Nya pada malam nisfu sya’ban, sehingga Allah Subhanahu wa ta’ala mengampuni segala sesuatu kecuali orang yang musyrik dan orang yang di dalam hatinya terdapat kedengkian.”

Berkata Al Hafidz Al Mundziri bahwa Isnaduhu La Ba’sa bihi yakni sanad hadits ini tidak ada keburukan.

Memperjelas Syeikh Al Albani

Al Ustadz Nashiruddin Al Albani, walaupun banyak dari ulama-ulama ahli hadits di berbagai penjuru dunia tidak menganggapnya sebagai pakar hadits, dan sangat banyak kitab yang ditulis untuk membantah pendapat-pendapat menyimpang Al Ustad Nashiruddin Al Albani, namun saya ingin mengutip suatu hadits dari karya beliau karena banyak dari kelompok-kelompok yang mengingkari kemulian malam nisfu sya’ban adalah orang-orang yang bertumpu dan fanatik berpegang kepada segala pendapat beliau.

Dalam suatu karya beliau yang berjudul Shahih Ibn Maajah yang merangkum seluruh hadits-hadits shohih Ibn Maajah. Pada jilid 1 halaman 414-415 Al Ustadz Nashiruddin Al Albani mengutip suatu hadits dari sahabat Abu Musa Al Asy’ary dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wasallam bersabda:

إن الله ليطلع في ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك و مشاحن

“Sesungguhnya Allah memandang pada malam nisfu sya’ban, maka Allah mengampuni seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang mendengki”.

Ketiga hadits di atas cukup untuk menjadi landasan kemuliaan malam nisfu sya’ban agar dimakmurkan dan diistimewakan.

Pendapat Ulama-Ulama Besar

Al Imam Abdullah bin Muhammad Al-Ghumari membawakan sekitar 10 hadits  yang menyebutkan kemuliaan malam nisfu sya’ban, sebagaimana Al Imam Ibnu Rajab Al Hambali di dalam kitabnya yaitu Lathaiful Ma’arif  juga meriwayatkan beberapa hadits tentang kemuliaan malam nisfu sya’ban, sebagaimana Al Imam As Suyuti di dalam tafsirnya yaitu Ad Durr Al Mantsur juga menyebutkan tentang kemuliaan malam nisfu sya’ban, dan banyak ulama-ulama besar lainnya yang menyebutkan hadits-hadits tentang kemuliaan malam nisfu sya’ban.

Walaupun hadits dhaif tidak dapat dijadikan sebagai hujjah dan landasan hukum, namun dapat dijadikan sebagai landasan di dalam fadhail a’mal dengan syarat-syaratnya.

Ketika banyak hadits dhaif yang meriwayatkan tentang perkara tertentu, maka status kedha’ifannya terangkat menjadi kuat dengan banyaknya dukungan dari hadits dhaif lainnya. Apa yang dilakukan oleh para ulama sejak dahulu di Negeri Syam dan di beberapa negeri lainnya dalam memakmurkan malam nisfu sya’ban sudah cukup dapat dijadikan sebagai hujjah, contoh dan teladan.

Baca Juga :   Plis, Berhentilah Menyebut-nyebut "Yang Di Atas"

 

Landasan Hukum Syariat

Dinyatakan bahwa menyatakan hukum tentang suatu perkara tertentu tidak dapat dilakukan sebelum seseorang atau ahli fatwa memahami betul secara keseluruhan tentang perkara tersebut sebelum dia menyatakan hukum terhadapnya.

الحكم على شيء فرع من تصوره

“Menyatakan hukum terhadap sesuatu adalah setelah memahami betul secara keseluruhan sesuatu tersebut.”

Apakah hukum syari’at terhadap perkumpulan dzikir dan doa yang dilakukan oleh kaum muslimin di berbagai penjuru pada malam nisfu sya’ban?

Sebelum menyatakan hukum terhadap perkumpulan doa dan dzikir serta memuliakan malam nisfu sya’ban, kita harus mengetahui perkumpulan apakah itu? dan apa yang ada didalamnya?. Apabila kita melihat dan menghadirinya maka akan didapati, yang mendorong mereka untuk menghadiri atau mengadakan perkumpulan tersebut adalah:

  • Keimanan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, berharap ampunan dan rahmat-Nya serta bermunajat agar harapannya dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.
  • Mereka mendengar hadits-hadits tentang kemuliaan malam nisfu sya’ban, diantaranya hadits shahih, hadits hasan, dan hadits dhaif. Mereka mengharapkan kerunia Allah Subhanahu wa ta’ala sehingga mereka berkumpul.

Perkumpulan pada malam nisfu sya’ban yang sebagaimana diadakan oleh kamu muslimin di berbagai penjuru adalah perkumpulan dzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, pembacaan kitab suci Al Qur’an baik surat Yaasiin atau surat lainnya, berdo’a dan berharap kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Apa hukum perkara-perkara tersebut? Perkumpulan dzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah perkara yang sangat dianjurkan dalam hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wasallam, dan banyak hadits yang diriwayatkan tentang perkumpulan dzikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Pembacaan Al Qur’an dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala baik secara sendiri maupun bersama-sama merupakan hal yang sangat dianjurkan di dalam agama serta merupakan ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wasallam. Perkara-perkara tersebut tidak pernah dilarang, bahkan sangat dianjurkan sebagai bentuk dan bukti penghambaan sejati kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.  (bersambung)

sumber alhabibahmadnoveljindan.org