Kamis , 16 Agustus 2018

Inilah Ibadah yang Tampaknya Riya’, tetapi Sebenarnya tidak Riya’

Tidak semua ibadah yang ditampakkan pada orang lain itu tergolong Riya’, ada beberapa justru membawa kebaikan. Ini yang disebut riya’ tetapi tidak riya.

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

PANGGILAN dari SURAU – Semua ibadah kita dituntut untuk ikhlash dan dijauhkan dari sifat riya’ atau mengharapkan pujian orang lain. Akan tetapi tidak semua aktivitas yang memperoleh pujian manusia dikategorikan riya’ atau pamer. Semua bergantung kepada hati masing-masing, karena keikhlasan sekali lagi merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Allah SWT.

Ada juga aktivitas yang mendapatkan pujian dari banyak orang, tetapi tidak terselip riya’ atau sum’ah di dalamnya. Hal tersebut justru kabar gembira pendahuluan dari Allah SWT yang dibagikan kepada orang tersebut di dunia. Selain itu, ada kabar gembira pula yang akan ia dapatkan di akhirat karena ketulusan dan keikhlasannya.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Abu Dzar Ra berkata, “Rasulullah SAW pernah ditanya, ‘Bagaimana pendapatmu, seandainya ada seseorang yang mengerjakan kebaikan, kemudian ia dipuji oleh orang banyak?’ Beliau menjawab, ‘ Yang demikian itu sebagai pendahulu kabar gembira bagi orang mukmin.’” (HR. Muslim).

Dari sini kita memahami bahwa profesi-profesi yang menuntut tampil di depan publik dan menimbulka popularitas yang tak dapat dielakkan, dan sangat punya potensi untuk riya’. Meskipun demikian, apakah ia benar-benar riya’, atau hatinya tetap hening dalam ketulusan, putih dalam keikhlasan kepada Allah SWT?

Semuanya hanya Allah zat Yang Maha Mengetahui. Biarlah hal ini menjadi rahasianya, dan rahasia hati yang bersangkutan.

Imam Al-Iz bin Abdus Salam menjelaskan secara terperinci dalam Kitab Qowa’idul Ahkam 1/25 sebagai berikut. Beliau berkata, “Ketaatan pada Allah ada 3 (tiga) macam :

1. Amalan yang Disyariatkan dengan Ditampakkan

Seperti azan, iqamat, bertakbir, membaca Al-Qur’an dalam shalat secara jahr, khutbah, amar ma’ruf nahi munkar, mendirikan shalat jumat dan shalat berjamaah, merayakan dua hari raya, jihad, mengunjungi orang-orang yang sakit, mengantar jenazah, hal-hal seperti ini tidak mungkin disembunyikan. Jika pelaku amalan-amalan tersebut takut riya’, hendaknya ia berusaha bersungguh-sunggu untuk menolaknya hingga ia bisa ikhlash. Kemudian, ia bisa melaksanaknnya dengan tulus, sehingga ia akan mendapatkan pahala amalannya juga pahala karena kesungguhannya menolak riya’, karena kemaslahatan amalan-amalan ini juga untuk orang lain.

Baca Juga :   Pilih Mana : Mau Jadi HAJI SELFIE atau HAJI BENERAN

2. Amalan yang Jika Diamalkan Secara Tersembunyi Lebih Afdhal daripada Ditampakkan.

Contohnya membaca qiraah secara perlahan tatkala shalat (yaitu shalat yang tidak disyariatkan untuk menyaringkan bacaan), dan berdzikir dalam shalat secara perlahan. Nah dengan perlahan ini lebih baik daripada jika dinyaringkan.

3. Amalan yang Terkadang Disembunyikan dan Terkadang Ditampakkan.

Seperti sedekah. Jika ia khawatir tertimpa riya’ atau ia tahu biasanya kalau ia menampkkan amalannya, ia akan riya’ maka amalan (sedekah) tersebut disembunyikan lebih baik daripada jika ditampakkan.

Masih menurut Imam Al-Iz bin Abdus Salam dalam Kitab Qowa’idul Ahkam 1/25, adapun orang yang aman dari riya’ maka harus memenuhi 2 (dua) keadaan :

1. Ia bukan Termasuk Orang yang Diikuti (Tokoh Panutan atau publik figur).
Lebih baik ia menyembunyikan sedekahnya, karena bisa jadi ia tertimpa riya’ tatkala menampakkan sedekahnya.

2. Ia merupakan orang yang dicontohi (Panutan) maka menampakkan sedekahnya lebih baik.
Karena tindakan bersedekah atau menyantuni fakir miskin itu akan dicontoh orang. Ia telah memberi manfaat kepada fakir miskin dengan sedekahnya dan ia juga menyebabkan orang-orang kaya bersedekah pada fakir miskin karena mencontoh perbuatannya. Ia juga telah memberi manfaat kepada orang-orang kaya tersebut karena mengikutinya untuk amal saleh.” (Kitab Qowa’idul Ahkam 1/25).Kesimpulannya, apa pun ibadah kita, kita tetap ikhlas melaksanakannya karena Allah SWT. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari sifat riya’ atau pamer. Aamiin. (pds)

sumber bacaanmadani.com
Link : http://www.bacaanmadani.com/2016/06/inilah-ibadah-yang-tampaknya-riya.html