Minggu , 19 Agustus 2018

Jika Allah Menghisabku, Maka Aku pun akan Menghisab-Nya

Baitullah tahun 1954. - (Foto Ilustrasi)
Baitullah tahun 1954. – (Foto Ilustrasi)

PANGGILAN dari SURAU – Diriwayatkan, hari itu ketika sedang thawaf (mengelilingi Ka’bah), Rasulullah SAW mendengar seorang A’robi (suku Arab dari gunung) berkata dengan suara lantang, “Yaa Kariim..!“.

Rasulullah SAW pun mengikutinya dari belakang dan berkata: “Yaa Kariim… ” (Wahai Yang Maha Mulia).

Lalu A’robi itu berjalan menuju ke arah pancuran ka’bah serta berseru lagi dengan suara lebih lantang, “Yaa Kariiim..!” Rasulullah SAW pun mengikutinya dari belakang, juga berseru, “Yaa Kariim“.

Merasa ada yang mengikutinya dari belakang, A’robi tersebut lalu menengok ke belakang, seraya membentak, “Apa maksudmu mengikuti dan menirukan perkataanku?  Apakah engkau sengaja mengejekku, karena aku seorang A’robi, seorang badui dari gunung?  Demi Allah jika bukan karena wajahmu yang bersinar dan parasmu yang indah, aku akan adukan hal ini kepada kekasihku Muhammad Rasulullah SAW…!

Rasulullah SAW pun tersenyum indah mendengar gertakan A’robi tersebut. Lalu Rasul SAW berkata dengan santun dan lemah lembut, “Wahai saudaraku, apakah engkau pernah melihat Rasulullah?

Belum pernah sekalipun.

Apakah engkau beriman kepadanya?”  tanya Nabi lagi.

Demi Allah, aku beriman kepadanya, walaupun aku belum pernah melihat wajahnya. Aku percaya dengan risalah yang dibawanya, walaupun aku belum pernah bertemu muka dengannya,“ ujar si A’robi tegas.

Rasulullah SAW bersabda, “Ketahuilah, wahai saudaraku, sesungguhnya aku adalah Nabimu di dunia dan pemberi syafaat di akherat kelak.

Begitu A’robi tadi mengetahui bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Rasulullah SAW, kontan ia menarik tangan Beliau, lalu menciuminya berkali-kali. Walaupun Rasulullah SAW berusaha menarik tangannya, sang A’robi tetap memegangnya erat-erat dan terus saja menciuminya. (telapak tangan Rasulullah SAW berdaging tebal, lebih lembut dari sutra yang paling halus, dan lebih dingin bagaikan salju serta harum lebih harum dari minyak wangi misk ,minyak wangi termahal di dunia).

Lalu dengan penuh tawaddu` (rendah hati) Rasul SAW menarik tangannya, seraya bersabda, “Perlahan-lahan wahai saudaraku. Sesungguhnya aku diutus sebagai Nabi, bukan sebagai Raja. Aku diutus sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, aku bukanlah si Perkasa dan Penyombong.

Baca Juga :   Akhirnya Tuntutan Umat Islam Terkabul, AHOK DIJADIKAN TERSANGKA

Seketika itu juga Malaikat Jibril AS turun dari langit dan bekata kepada Rasulullah SAW, “Allah mengucapkan salam kepadamu, dan menghusukan tahiyyat atasmu.”  Allah berfirman: “Katakanlah kepada A’robi: “Janganlah merasa bangga dengan amal kebaikannya, sesungguhnya esok Kami akan menghisab amalnya yang kecil sebelum besar, bahkan hingga yang sekecil-kecilnya tidak akan diluputkan.

 

Lalu Rasulullah SAW menyampaikan pesan Allah tersebut kepada si A’robi tadi. Setelah mendengar pesan dari Allah Si A’robi bertanya: ”Apakah Allah akan menghisabku kelak, ya Rasulullah ?

Ya, betul. Dengan kehendak-Nya, Allah akan menghisabmu kelak,“  jawab Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

 

“Jika Allah akan menghisabku esok, akupun akan menghisab-Nya kelak…!”

“Wahai saudaraku, bagaimana caramu akan menghisab Allah kelak?”  tanya Rasulullah SAW yang merasa heran dengan jawaban A’robi.

“Ya , jika Allah akan menghisab atas dosa-dosa yang aku lakukan, akau akan menghisab akan ampunan-Nya, yang Maha Luas.”

“Jika Dia (Allah) akan menghisabku atas maksiat yang aku perbuat, aku akan menghisab maghfirah-Nya yang tidak terbatas, dan jika Dia (Allah) akan menghisabku atas kekikiranku, aku pun akan menghisab kemurahan-Nya yang tanpa batas..!” ujar A’robi penuh keyakinan.


Mendengar kata-kata A’robi itu, mengalirlah airmata Rasulullah SAW, beliau menangis tersedu-sedu, mengingat betapa benarnya kata-kata orang A’robi itu. Air mata Rasulullah SAW membuat basah jenggot beliau. Tangisannya membuat Malaikat Jibril As turun lagi dari langit.

Wahai Rasulullah, as-salaam yaqra-uka as-salaam, janganlah engkau menangis, karena sesungguhnya `Arsy Allah dan seisinya bergetar mendengar tangisanmu. Katakanlah kepada saudaramu, A’robi itu, sesungguhnya Allah tidak akan menghisabnya dan ia tidak usah menghisab-Nya. Katakanlah bahwa ia akan menjadi temanmu di surga nanti,“ demikain kata Jibril as.

Dari riwayat hadits inilah konon oleh masyarakat Mesir sering dibaca dengan lagu yang indah pada waktu menjelang Shubuh untuk Tarhim. (pds)

 

sumber Al-Yafi’i, dalam Raudhur Rayyakhin fi Khikayatis Shalikhin, 18-20
via sholawat.co, muslimedianews.com