== [ Close Klik 2x ] ==
Selamat Datang

KENAPA CUMA NABI IBRAHIM YG DISEBUT DALAM BACAAN TASYAHHUD, BUKAN NABI YG LAIN? Begini Alasannya

tasyahhud akhir_panggilan dari surau

Panggilan dari Surau – Di awal shalat ada doanya (iftitah), dan di akhir shalat ada namanya (tasyahhud). Kenapa Allah SWT mengabadikan nama Nabi Ibrahim As di dalam shalat ? Apa istimewanya sehingga namanya bersanding dengan Rasulullah SAW di dalam bacaan Tasyahhud Akhir? Tidak ada nama-nama Nabi yang lain.

 

ALASAN 1 : Janji Allah SWT kepada Nabi Ibrahim

Setelah Allah SWT menciptakan manusia yang pertama yaitu Nabi Adam as, kalimah pertama yang dilihat oleh Nabi Adam as adalah :

kalimat tauhid 2_panggilan dari surau

Laa ilaaha illallah Muhammad-ur-Rasulullah
“Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Muhammad itu adalah utusan Allah.”

 

Lalu Nabi Adam as bertanya kepada Allah SWT tentang siapakah ‘Muhammad‘ itu?
Lantas Allah SWT menjawab, beliau (Muhammad SAW) adalah penutup segala nabi dan rasul dan paling mulia di antara mereka semua (rasul). Umat Nabi SAW juga diberi banyak kemuliaan berbanding umat-umat yang lain.

Diceritakan bahwa Nabi Adam as berkata : “Sesungguhnya Allah memberi 4 macam kemuliaan kepada umat Nabi Muhammad SAW yang tidak diberikan kepadaku, yaitu:

1. Penerimaan taubatku di Makkah, sedangkan umat Muhammad boleh bertaubat di mana-mana tempat.
2. Aku berpakaian ketika aku melakukan dosa, kemudian Allah menjadikanku telanjang bulat. Sedangkan umat Muhammad tetap diberi pakaian , meskipun dia derhaka kepada Allah dalam keadaan bertelanjang
3. Ketika aku berbuat dosa, Allah memisahkan aku dan isteriku (Adam di kaki gunung Himalaya, Hawa di Jeddah) sedangkan umat Muhammad yang berbuat dosa tidak dipisahkan dari isterinya
4. Aku berbuat kesalahan di syurga lalu Allah mengusirku dari syurga ke dunia, sedangkan umat Muhammad berbuat dosa di luar syurga, Allah tetap memasukkan mereka ke syurga apabila mereka bertaubat.

Menyadari ketinggian derajat Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT, Nabi Adam as memohon kepada Allah agar diberi anugerah yaitu cukuplah sekedar menjadi umat Nabi Muhammad SAW. Namun demikian, Allah menolak permintaan itu mentah-mentah.

Begitu juga dengan nabi-nabi yang lain seperti Nabi Musa as. Sehingga Allah SWT sendiri menegur sikap nabi Musa as agar ridha dengan apa-apa yang dikurniakan kepadanya. Dalam banyak-banyak nabi yang memohon untuk menjadi umat Nabi Muhammad SAW, hanya ada seorang nabi saja yang Allah perkenankan permohonannya tetapi bukan semua, hanya sebagian daripada permohonan itu Allah terima.

Beliau adalah Nabi Ibrahim as. Pada dasarnya, Allah SWT tidak memperkenankan permohonan Ibrahim as untuk menjadi umat Nabi Muhammad SAW, tetapi Allah menjanjikan kepada Ibrahim as bahwa Nabi Muhammad SAW akan lahir daripada silsilah atau keturunan Ibrahim as sendiri.

Dan nama Nabi Ibrahim as juga akan terus mengalir dari bibir-bibir umat Muhammad SAW, namanya akan selalu disebut-sebut oleh umat Rasulullullah SAW.

 

ALASAN 2: Nabi dengan Keistimewaan Paling Besar

Allah memberikan keistimewaan yang begitu besar kepada Sayyidina Ibrahim alaihisshalatu wassalamu. Dia adalah imam, ummah, hanif, qanit lillahi azza wa jalla, kepadanya bersumber nasab para nabi dan beriman kepadanya para penganut syariah (muslimun, nashara dan Yahudi).
Ibrahim merupakan nabi yang paling agung setelah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Karena itu Allah Ta’ala mengabarkan kepada kita bahwa Dia menjadikannya sebagai Khalil (kekasih).

وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا (سورة النساء: 125)
Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisaa”: 125)

 

Nabi Ibrahim adalah yang Nabi shallallahu alaihi wa sallam diperintahkan untuk mengikuti millahnya (ajarannya),

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنْ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا (سورة النحل: 123)

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” (QS. An-Nahl: 123)

 

Karena itu, Nabi kita shallallahu alaihi wa sallam, dan kita mengikutinya, adalah orang yang paling utama bagi Nabi Ibrahim alaihissalam.

Nabi Ibrahim alaihisshalatu wassalam diberi keistimewaan karena dia merupakan bapak para nabi, dia pemilik ajaran yang lurus, kita diperintahkan untuk mengikutinya. Karena kita lebih utama untuk menjadi pengikut Ibrahim. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا (سورة آل عمران: 68)

 

Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad).” (QS. Ali Imron: 68)
(Liqo Al-Bab Al-Maftuh, 189, soal no. 7)

 

ALASAN 3: Nabi Ibrahim Dijadikan Imam Bagi Umat Manusia

Allah telah menguji nabi Ibrahim as dengan beberapa kalimah. Pengertian kalimah sebagaimana tersurah dalam Al-Baqarah (124) ini adalah tugas yang disyariatkan oleh Allah SWT untuk disempurnakan pelaksanaannya oleh Nabi Ibrahim as. Dan Nabi Ibrahim berhasil menyempurnakan tugas itu, karena itulah lantas Allah SWT melantik baginda menjadi Imam.

Dan (ingatlah), ketika Nabi Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimah
(suruhan dan larangan), maka Nabi Ibrahim pun menyempurnakannya. (Setelah itu) Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku melantikmu menjadi imam (pemimpin ikutan) bagi umat manusia.” Nabi Ibrahim pun memohon dengan berkata: “(Ya Tuhanku!) Jadikanlah juga dari keturunanku (pemimpin-pemimpin ikutan).”

Lalu Allah berfirman: “(Permohonanmu diterima, tetapi) janji-Ku ini tidak menjangkau orang yang zalim.” (QS Al-Baqarah, 124).

Karena janji Allah SWT itu, seluruh para nabi yang datang setelahnya adalah keturunan dari kedua anaknya; Nabi Ishaq as dan Nabi Ya’kub as, kecuali Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang merupakan keturunan dari Nabi Ismail as bin Ibrahim as.

Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam memiliki kekhususan dengan Ibrahim dibanding yang lainnya. Ibrahim as adalah bapak bangsa Arab, dia merupakan bapak Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dari segi nasab.

Lalu, sebagian ulama’ memperincikan ‘kalimah’ sebagaimana termaktub dalam Al-Baqarah 124 di atas, dengan mengatakan bahwa ia merujuk kepada 40 perintah Allah SWT, di mana perintah-perintah itu adalah ajaran syariat yang terkandung dalam beberapa ayat al-Qur’an. Antaranya adalah 10 perintah pada surah at-Taubah:112, 10 perintah dalam surah surah al-Mu’minun ayat 1-10, 10 perintah dalam surah al-Ahzab:35 dan 10 perintah lagi dalam surah al-Ma’arij ayat 22-34.

Menurut riwayat Ibnu Abbas ra, Nabi Ibrahim as telah diperintahkan untuk bersuci,
di antaranya dengan mencukur misai, berkumur-kumur, menyedot air ke dalam hidung,
bersiwak (bersugi), menyikat rambut, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, berkhatan dan berintinjak. Malahan, baginda as adalah orang pertama yang melakukan amalan-amalan sedemikian dengan cemerlang. Nabi Ibrahim (a.s) diperintahkan untuk berkhatan ketika berumur 80 tahun (Hadis riwayat Abu Hurairah).

Baca Juga :   Gemparkan Jagat Politik Tanah Air, DOA PENUH SINDIRAN DI DEPAN JOKOWI

Selain itu, Nabi Ibrahim as juga diperintahkan untuk melakukan empat perkara yang merupakan amalan dalam ibadah Haji yang terus dilakukan hingga kini yaitu Thawaf, sa’i antara safa dan marwah, melontar jumrah dan thawaf ifadah.

Baginda juga merupakan orang pertama yang menggunakan pedang dalam peperangan, memakai celana, berkhutbah di atas mimbar dan memegang tongkat ketika berkhutbah.

Baginda Nabi Ibrahim as juga diuji dengan cobaan yang paling berat yaitu;

1. Diperintahkan oleh Allah agar menyembelih puteranya Ismail as, tetapi Allah telah menggantikannya dengan seekor kibasy.
2. Terpaksa berpisah dengan keluarga dan kaumnya karena kekufuran mereka.
3. Perdebatan baginda dengan Raja Namrud mengenai ketuhanan membuat Baginda dibakar hidup-hidup tetapi kemudian diselamatkan Allah SWT.
4. Baginda telah diduga dengan mengisbatkan kewujudan Tuhan melalui tadabbur (pengamatan) alam semesta melalui bulan, matahari dan bintang. Cobaan ini juga telah berhasil diatasi oleh Nabi Ibrahim as, maka Allah SWT telah memerintahkan baginda supaya tunduk dan patuh serta berserah diri kepada Allah SWT dan Baginda mematuhinya.

Melalui sederet ‘prestasi’ dalam menghadapi pelbagai ujian itulah, akhirnya Allah SWT memberi anugerah al-Bara’ah (kebebasan daripada neraka) kepada Nabi Ibrahim as, dan dia diangkat menjadi imam dalam pelaksanaan ibadah haji dan pemimpin bagi seluruh umat manusia.

 

ALASAN 4: Satu-satunya Nabi Yang Memberi Salam kpd Ummat Muhammad SAW

Dalam Fat-hul Wahhaab / Hasyiyah Jamal 3/428 :

وَخَصَّ إبْرَاهِيمَ بِالذِّكْرِ ؛ لِأَنَّ الرَّحْمَةَ وَالْبَرَكَةَ لَمْ تَجْتَمِعَا لِنَبِيٍّ غَيْرِهِ قَالَ تَعَالَى
{ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ }

( قَوْلُهُ وَخَصَّ إبْرَاهِيمَ بِالذِّكْرِ إلَخْ )
عِبَارَةُ الْأُجْهُورِيِّ

فِي شَرْحِ مُخْتَصَرِ ابْنِ أَبِي جَمْرَةَ نَصُّهَا وَإِنَّمَا خَصَّ إبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِذِكْرِهِ وَآلِهِ فِي الصَّلَاةِ لِوَجْهَيْنِ : أَحَدُهُمَا أَنَّ نَبِيَّنَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ رَأَى لَيْلَةَ الْمِعْرَاجِ جَمِيعَ الْأَنْبِيَاءِ وَسَلَّمَ عَلَى كُلِّ نَبِيٍّ وَلَمْ يُسَلِّمْ أَحَدٌ مِنْهُمْ عَلَى أُمَّتِهِ غَيْرَ إبْرَاهِيمَ فَأَمَرَنَا نَبِيُّنَا أَنْ نُصَلِّيَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ آخِرَ كُلِّ صَلَاةٍ إلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مُجَازَاةً لَهُ عَلَى إحْسَانِهِ

Dikhususkannya penuturan Nabi Ibrahim AS karena rahmat dan barokah tidak akan terkumpul pada Nabi selain Nabi Ibrahim, firman Allah SWT :

‘رحمة الله و بركاته عليكم أهل البيت’

ucapan mushanif wakhusha Ibrahim.. Ilakhi, Ibarot Al Ajhuriy dalam syarah kitab Mukhtashar Bin Aby Jamrah yg telah dinash oleh beliau,

“Sesungguhnya dikhususkannya penuturan Nabi Ibrahim As dan keluarganya dalam shalawat karena ada dua wajah:

Yang pertama sesungguhnya Nabi Kita ‘alaihi shalaatu wassalam pada malam isra dan mi’raj beliau melihat para Nabi lalu beliau mengucapkan salam pada mereka namun tidak ada satupun dari mereka yg mengucapkan salam pada umat Nabi Muhammad selain Nabi Ibrahim As. Maka Nabi kita memerintahkan kepada umatnya agar bershalawat kepada beliau (Nabi Ibrahim as) dan keluarganya di setiap akhir shalat sampai hari kiamat sebagai balasan kebaikan untuk beliau (Terjemah dari A Ramdhan Ab ).
الثَّانِي : أَنَّ إبْرَاهِيمَ لَمَّا فَرَغَ مِنْ بِنَاءِ الْبَيْتِ جَلَسَ مَعَ أَهْلِهِ فَبَكَى وَدَعَا فَقَالَ اللَّهُمَّ مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ مِنْ شُيُوخِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ فَهَبْهُ مِنِّي السَّلَامَ فَقَالَ أَهْلُ بَيْتِهِ : آمِينَ ، قَالَ إِسْحَاقُ : اللَّهُمَّ مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ مِنْ كُهُولِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ فَهَبْهُ مِنِّي السَّلَامَ فَقَالُوا : آمِينَ ثُمَّ قَالَ إسْمَاعِيلُ : اللَّهُمَّ مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ مِنْ شَبَابِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ فَهَبْهُ مِنِّي السَّلَامَ فَقَالُوا : آمِينَ فَقَالَتْ سَارَةُ : اللَّهُمَّ مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ مِنْ نِسَاءِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ فَهَبْهُ مِنِّي السَّلَامَ فَقَالُوا : آمِينَ فَقَالَتْ هَاجَرُ اللَّهُمَّ مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ : مِنْ الْمَوَالِي مِنْ النِّسَاءِ وَالرِّجَالِ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ فَهَبْهُ مِنِّي السَّلَامَ فَقَالُوا : آمِينَ ، فَلَمَّا سَبَقَ مِنْهُمْ ذَلِكَ أُمِرْنَا بِالصَّلَاةِ عَلَيْهِمْ مُجَازَاةً لَهُمْ انْتَهَتْ .

 

Yang Kedua, sesungguhnya Ibrahim as, manakala selesai dari membangun Baitullah duduk beserta keluarganya, maka beliau menangis seraya berdo’a, “Yaa Allah barangsiapa yang berhaji akan rumah Engkau ini (di tempat ini) dari golongan yang tua-tua dari umat Muhammad maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, maka berkata ahli keluarganya Aamiin….., berkata Ishak as, Yaa Allah barangsiapa yang berhaji di rumah Engkau ini, dari golongan yang setengah baya dari umat Muhammad, maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, Maka keluarganya berkata Aamiin, kemudian berkata Ismail as, Yaa Allah barang siapa berhaji di rumah Engkau ini para pemuda dari golongan umat Muhammad, maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, Maka keluarganya berkata Aamiin, maka berkata Sarah ya Allah barang siapa berhaji di rumah Engkau ini golongan perempuan dari Umat Muhammad , maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, Maka keluarganya berkata Aamiin, maka berkata Siti Hajar, Yaa Allah barang siapa berhaji di rumah Engkau ini para maula (majikan) dari golongan umat Muhammad, maka berikan (kirimkan) kepadanya salam dariku, Maka keluarganya berkata Aamiin, manakala telah terdahulu dari mereka oleh yang demikian itu (ucapan salam) maka kita diperintahkan dgn shalawat atas mereka sebagai balasan bagi mereka… “ (Penerjemah Muhammad Bakhit ).

SHALAWAT IBRAHIMIYAH

Berdasarkan alasan-alasan di atas itulah kita SUNAT untuk menyebut nama Nabi Ibrahim as dalam shalat lima waktu, yaitu pada bacaan Tahiyat Akhir seperti dijanjikan oleh Allah SWT kepada Ibrahim as melalui shalawat Ibrahimiyah.

Shalawat Ibrahimiyah adalah shalawat yang dibaca pada separuh kedua dalam bacaan Tahiyyat Akhir di dalam shalat.  Selawat Ibrahimiyah dalam Tahiyat Akhir adalah :

shalawat-ibrahimiyah_panggilan dari surau

 

  • Versi Imam Syafi’i (Imam syaraf anNawawi: Syarah Muslim (4/123), anda hanya perlu membaca Salawat atas Nabi saja. Shalawat atas keluarga baginda dan shalawat Ibrahimiyah adalah sunat (optional)
  • Versi Maliki & Imam Hanafi: sunat hukumnya shalawat ini baik atas Nabi SAW, keluarga dan ke atas Nabi Ibrahim as.
  • Versi Imam Hambali: wajib shalawat atas Nabi SAW, keluarga dan shalawat Ibrahimiyah (Fathul Bari: 9/163)

Begitu besar penghargaan yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim, sehingga shalawat kepadanya disyiarkan dalam shalat kita.

Shalawat ini menggabungkan dua ucapan salam dan hormat ke atas kedua-dua Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim as. Terdapat hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ra dan Imam Ibnu Khuzaimah ra yang menganjurkan agar kita bershalawat ke atas kedua-dua Nabi Besar SAW itu.
.
Lafaz shalawat ini sebagus-bagus, selengkap-lengkap dan sesempurna lafaz ke atas junjungan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebab itu shalawat ini ditentukan bacaannya di dalam solat.

Ibnu Taimiyyah berkata, “Shalawat yang paling sempurna untuk Rasulullah adalah Shalawat Ibrahimiyah….” (pds)

Sumber : islamqa.info/id, noraisyahmdnoor.blogspot.co.id, piss-ktb.com, harianaceh.co.id