== [ Close Klik 2x ] ==
Selamat Datang
Selasa , 17 Juli 2018

KENAPA NU LARANG WARGANYA IKUT DEMO ANTI-AHOK, Begini Penyebabnya

NU melarang warga nahdhyin ikut demo anti-ahok dan membiarkan kasus penistaan agama ini berjalan melalui jalur hukum.

said agil siradj, Ketua Umum PBNU. Foto liputan6.com
KH Said Agil Siradj, Ketua Umum PBNU. Foto liputan6.com

 

PANGGILAN dari SURAU – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj melarang warga NU ikut demonstrasi terkait pernyataan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengenai ayat Al Quran. Siang Jumat kemarin (14/10/2016) ribuan massa mendatangi Balai Kota Jakarta.

“Warga NU saya larang, Anshor saya larang, pemuda-pemuda NU, mahasiswa NU, PMII saya larang, enggak akan ada yang turun,” kata Said usai bertemu Menko Polhukam Wiranto di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (14/10).

Said mengatakan larangan demo di kantor Ahok hari ini untuk menghindari fitnah. Saat ini, kata Said, fitnah telah ditujukan kepada Ahok. Dia khawatir fitnah akan lebih besar lagi dan mengancam keamanan serta ketenangan berbangsa.

“Iya kalau demonya baik, kalau ditumpangi pihak ketiga yang politis, bukan hanya masalah surat Al Maidah, targetnya ingin mengubah keadaan, luar biasa,” kata Said.

Meskipun melarang warga NU untuk demonstrasi, Said tidak memaksa kelompok lain untuk mengikuti imbauannya. Unjuk rasa baginya sah saja dilakukan asalkan tetap bermartabat, beretika, dan tidak menimbulkan kerusuhan maupun pengerusakan fasilitas umum.

Baca Juga :   Mayoritas Ulama 4 Mazhab Berpendapat, Wajah Wanita Bukanlah Aurat

“Kalau terpaksa harus demo, itu sah-sah saja. Silakan demo itu merupakan hak semua orang,” katanya.

Said mengatakan, Ahok sendiri telah meminta maaf atas pernyataannya. Bahkan NU telah menerima permintaan maaf itu. Namun, Majelis Ulama Indonesia tidak menerima permintaan maaf Ahok.

“Mau bagaimana lagi, orang kalau sudah mengaku salah, berarti keseleo, tidak sengaja, hal yang sangat mungkin, terjadi dilakukan oleh siapa saja,” kata Said.

Dia juga berharap agar Ahok lebih hati-hati dalam mengeluarkan pernyataan di kemudian hari. Kasus beberapa waktu lalu, kata Said, seharusnya dijadikan pelajaran berharga bagi Ahok.

“Pemimpin harus bermartabat, lisannya harus baik, berbudaya, jadi teladan, contoh bagi rakyatnya, perilakunya, ucapannya, sikapnya. Itu kita sayangkan, bukan benci,” ujarnya.

Proses hukum atas pernyataan Ahok sedang berjalan hingga kini. Said pun berpendapat, seharusnya masyarakat menunggu proses hukum tersebut daripada main hakim sendiri.

“Lebih baik diproses, kan berangkat dari praduga tak bersalah kalau diperiksa, berangkat dari nol, daripada masyarakat main hakim, itu yang bahaya sekali,” kata Said. (pds)

 

sumber CNN Indonesia