Senin , 20 Agustus 2018

Ketika Nabi Musa As Disuruh Ngurusi Mayat dalam Tong Sampah

Ilustrasi. Foto pinterest.com

 

PANGGILAN dari SURAU – Pada zaman Nabi Musa AS ada seorang warga yang meninggal dunia. Akan tetapi, masyarakat sekitar membencinya sehingga mereka tidak mau merawat, memandikan dan menyalatinya.  Bahkan mereka memperlakukannya dengan keji diseret dan membuangnya ke tempat sampah.

Lalu Allah memberi wahyu kepada Nabi Musa, “Wahai Musa, ada seorang kekasihku meninggal dan dibuang ke  tempat sampah. Akan tetapi, dia diperlakukan dengan hina mereka tidak mau memandikan, mengkafani dan menguburnya. Maka pergilah kamu ke sana dan rawatlah jenazahnya.”

Lalu Nabi Musa mendatangi tempat tersebut dan bertanya kepada masyarakat setempat tentang keadaan mayat itu. Mereka menjawab, “Benar ada seorang yang wafat akan tetapi dia seorang yang fasik”. Nabi Musa bertanya, “Mana mayat itu sekarang, karena Allah telah memberiku wahyu untuk mendatangi dan merawatnya”.

Akhirnya mereka bersama-sama pergi ke tempat di mana mereka membuang mayat itu.

Ketika Nabi Musa melihat keadaan mayat tersebut yang terbuang di tempat sampah, Sedangkan orang-orang masih masih menceritakan tentang kejelekan pekerjaannya.

Maka Nabi Musa bermunajat kepada Tuhannya, “Ya Allah, Engkau perintahkan aku untuk merawat dan memendamnya, sedangkan masyarakat di sini memberi kesaksian bahwasanya dia orang yang jelek, sedangkan Engkau lebih tau tentang baik dan jeleknya seseorang,” gumamnya.

Lalu Allah memberi wahyu kepada Nabi Musa, “Wahai Musa, apa yang diceritakan oleh masyarakat tentang pekerjaan orang tersebut memang benar, akan tetapi dia sebelum wafatnya meminta ampunan dengan tiga perkara yang apabila semua orang berbuat dosa meminta dengan perkara itu pasti akan saya kabulkan permintaannya, bagaimana tidak saya mengampuninya sedangkan saya adalah dzat yang maha belas kasih.”

Baca Juga :   Kisah Nabi Ibrahim dan Pemuda yang Dipanjangkan Umurnya

Nabi Musa bertanya,”Apa tiga perkara tersebut ya Allah.”

Allah SWT menjelaskan permohonan orang yang meninggal itu di detik-detik kematiannya.

Pertama, Tuhanku, Engkau tahu akan diriku. Aku telah banyak melakukan maksiat . Tetapi disebabkan tiga hal aku melakukan maksiat, Ketiga hal itu adalah hawa nafsu, sahabat yang buruk dan iblis terlaknat. Tuhanku, sungguh engkau lebih tahu apa yang aku ucapkan, maka ampunilah aku.

Kedua, Tuhanku, Engkau tahu bahwa aku telah banyak melakukan maksiat karena aku tinggal bersama orang-orang fasik. Namun, aku lebih senang bersama orang-orang sholeh dan zuhud dari pada berkumpul dengan orang-orang yang fasik.”

Ketiga, Tuhanku, Engkau tahu bahwa orang-orang sholeh lebih aku sukai dari pada orang-orang fasik. Hingga jika ada dua orang menemuiku, satunya orang sholeh dan satunya lagi orang fasik, pasti aku kan mendahulukan keperluan orang sholeh itu dari pada orang fasik.

Allah berfirman,” Musa aku merahmatinya dan mengampuninya karena aku maha pengasih dan penyayang, terlebih kepada orang-orang yang mengadukan dosa-dosanya kepadaku, Musa lakukanlah apa yang aku perintahkan”.

Maka Nabi Musa dan masyarakat pun mengurus dan mengubur mayat yang dibuang ke tempat sampah tadi. (pds)

Disarikan dari
Kitab al-Mawâidz al-Ushfûriyah, Hal: 03, Cetakan al-Haramain

sumber LAZ Sidogiri