Minggu , 19 Agustus 2018

MANDI SEBELUM JUM’ATAN, Wajib atau Sunnah ?

mandi jumat_panggilan dari surauBAGI orang yang tidak memiliki banyak aktivitas di hari jumat, tidak menjadi masalah kalau shalat jum’at itu harus diawali dengan mandi sebelum menunaikannya. Namun bagi orang yang sedang bekerja di kantor, pasar, pabrik, atau berada di sekolah dengan jam istirahat yang dibatasi, bukankah hal itu akan mempersulit mereka dalam mengerjakannya.

Hadits-hadits yang menerangkan tentang mandi hari jum’at memang seolah-olah saling kontradiktif antara satu dengan lainnya. Dimana satu hadits yang shahih mengatakan bahwa hukum mandi pada hari jum’at adalah wajib karena dalam teks hadisnya sendiri terdapat kata-kata “wajib”. Namun dalam teks hadis lain tidak terdapat lafaz yang mengindikasikan kewajiban mandi pada hari jum’at.

DALIL MANDI JUMAT

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ

“Apabila salah seorang kalian berangkat shalat Jum’at hendaklah dia mandi.” (HR. Muslim).

Dan di antara hadits Nabi yang dijadikan dalil oleh kelompok yang memandang bahwa mandi pada hari jum’at tidak wajib adalah:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا
 “Barangsiapa berwudlu’, lalu memperbagus (menyempurnakan) wudlunya, kemudian mendatangi shalat Jum’at dan dilanjutkan mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan diberikan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan pada hari itu sampai dengan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya. Barangsiapa bermain-main krikil, maka sia-sialah Jum’atnya.” (HR. Muslim no. 857).
Di dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menyebutkan wudlu’ dan hanya menfokuskan padanya, tidak pada mandi, lalu menilainya sah sekaligus menyebutkan pahala yang diperoleh dari hal tersebut.

Dengan demikian, hal itu menunjukkan wudlu’ saja sudah cukup dan tidak perlu mandi. Dan bahwasanya mandi itu bukan sesuatu yang wajib, tetapi Sunnah Mu’akkadah.

Imam al Nawawi rahimahullah, dalam Syarh Shahih Muslim, ketika memberikan syarah hadits, “siapa yang mandi kemudian mendatangi Jum’at, lalu shalat sebagainya yang dia mampu, lalu memperhatikan khutbah hingga selesai, lalu shalat bersama Imam, maka diberi ampunan untuknya pada hari itu sampai dengan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya,” beliau menyitir riwayat di atas. Kemudian berkata, “di dalam hadits (pertama) terdapat keutamaan mandi. Dan itu bukan hal yang wajib berdasarkan riwayat kedua. Di dalamnya terdapat anjuran berwudlu’ dan memperbagusnya.”

Kedua, hadits Samurah bin Jundab radliyallah ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ اَلْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ, وَمَنْ اِغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ
“Barangsiapa yang berwudlu’, maka dia telah mengikuti sunnah dan itu yang terbaik. Barangsiapa yang mandi , maka yang demikian itu lebih afdhal.” (HR. Abu Dawud no. 354, al-Tirmidzi no. 497, al-Nasai no. 1379, Ibnu Majah no. 1091, Ahmad, no. 22. Imam al-Tirmidzi menghasankannya).

Ibnu Hajar mencantumkan hadits di atas dalam Bulughul Maram sesudah hadits yang menunjukkan wajibnya mandi Jum’at. Dan berdasarkan hadits ini, Jumhur mendasarkan pendapat mereka. Imam al Shan’ani dalam Subul al-Salam berkata, “hadits ini menjadi dalil tidak wajibnya mandi.”

Baca Juga :   11 ANCAMAN HADITS TENTANG RIBA INI SUNGGUH MENGERIKAN, Membuat Pelakunya Susah Tidur

Al-Mubarakfuri dalam Ithaf al Kiram berkata, “hadits ini menguatkan pendapat Jumhur bahwa mandi hari Jum’at tidak wajib.”

Ketiga, pengakuan ‘Umar dan para sahabat terhadap ‘Utsman yang berangkat menunaikan shalat Jum’at dengan berwudlu’ saja, tidak mandi. Mereka tidak menyuruh ‘Ustman untuk keluar dari masjid serta tidak menolaknya sehingga hal itu menjadi ijma’ mereka bahwa mandi bukan menjadi syarat sahnya shalat Jum’at dan tidak wajib. Imam al Nawawi mengambil kesimpulan dari kisah ini, seandainya mandi Jum’at itu wajib pasti ‘Utsman tidak akan meninggalkannya. Dan jika wajib, pasti ‘Umar dan para sahabat lainnya akan menyuruhnya mandi. Padahal status keduanya sebagai Ahlul Halli wal ‘Aqdi. Imam al Tirmidzi rahimahullah menyimpulkan dari kisah ini, bahwa mandi hari Jum’at bersifat pilihan dan bukan sesuatu yang wajib.

Keempat, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat yang keluar bekerja pada hari Jum’at sehingga mereka terkena debu dan menimbulkan bau tidak sedap;

 لَوْ اغْتَسَلْتُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
 “Alangkah baiknya kalian mandi pada hari Jum’at.” (HR. Muslim dari ‘Aisyah radliyallah ‘anha) dalam riwayat lain, “kalau saja kalian membersihkan diri kalian untuk hari kalian ini.” Lafadz hadits ini memberikan pengertian bahwa mandi hari Jum’at itu bukan suatu yang wajib. Pengertian dari sabda beliau di atas adalah, “niscaya akan lebih baik dan lebih sempurna.” (Syarh Shahih Muslim: IV/382).

Dengan adanya hadits-hadits tentang mandi pada hari jum’at yang seolah-olah bertentangan antara satu dengan lainnya, dimana ada yang mencantumkan lafaz wajib dalam teks haditsnya tapi dalam hadits lain hanya ada anjuran saja.

Untuk menyelasikan hadis-hadis ikhtilaf ini kami mencoba menggunakan metode Al-Jam’u Wa At-Taufiq sebagaimana dicontohkan oleh Imam Asy-Syafi’i. Yakni dengan mengkompromikan hadis-hadis tersebut sehingga dapat dipahami bahwa adanya lafaz wajib dalam beberapa hadits tentang mandi pada hari jum’at tidak serta merta menjadikan hukum mandi pada hari jum’at menjadi wajib karena banyaknya hadits-hadits lain dengan derajat yang shahih pula yang menyatakan bahwa mandi pada hari jum’at hanya sebatas anjuran.

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah kami paparkan diatas maka dapat ditarik kesimpulan mengenai hukum mandi pada hari jum’at sebagai berikut:

1. Mandi pada hari jum’at hukumnya sunnah mu’akaddah yaitu dianjurkan untuk dilakukan tapi tidak menyebabkan datangnya dosa jika tidak melaksanakannya karena perintah wajib dalam beberapa hadits tentang mandi pada hari jum’at dipahami sebagai sebuah anjuran dan hal itu didukung oleh banyaknya hadits shahih yang menyatakan bahwa mandi hari jum’at hanya sunnah.

2. Namun dengan adanya beberapa hadits yang mewajibkan kita mandi hari jum’at hendaknya menjadi acuan bagi kita untuk tidak serta merta melalaikannya. Bahkan berusaha untuk melaksanakannya. Umat Islam memang harus senantiasa memperdalam pemahaman mereka mengenai hadits yang menjadi pedoman kita setelah Al-Qur’an. Dengan demikian kita bisa mewujudkan dan menjaga fungsi dari agama Islam sebagai agama yang sesuai bagi semua zaman. (pds)

sumber putralalamping.blogspot.co.id