Kamis , 16 Agustus 2018

NU dan Muhammadiyah Lebaran Bareng : Rabu 6 Juli 2016

Untuk kesekian kalinya, NU dan Muhammadiyah Idul Fitri bareng. Pemerintah juga menetapkan hari yang sama untuk 1 Syawal 1437 H, yaitu Rabu, 6 Juli 2016.

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

 

PANGGILAN dari SURAU – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) mengumumkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1437 H jatuh pada Rabu (6/7). Hal ini diketahui setelah Tim Rukyatul Hilal PBNU atau lembaga Falakiah PBNU melakukan pemantauan hilal secara langsung pada Senin (4/6) atau hari ke-29 Ramadhan di 42 titik se-Indonesia.

Hasilnya dari pemantauan tersebut, dilaporkan tim tidak berhasil melihat hilal atau minus satu derajat. Padahal sesuai ketentuannya, hilal dikatakan sempurna jika lebih dari dua derajat.

“Karena tidak melihat hilal maka kami ambil satu kaidah dalam Alquran yakni istikmal menyempurnakan jadi 30 hari, dengan demikian umur bulan Ramadhan 1437 Hijriah adalah 30 hari (istikmal),” ujar Wakil Ketua Lembaga Falakiyah PBNU, Sohibul Faroji dalam keterangannya di Gedung PBNU, Jakarta, Senin (4/6).

Sohibul mengatakan, dari 19 titik yang dilaporkan semuanya tidak melihat hilal. Dengan begitu, warga NU dan umat Islam pada umumnya agar menyempurnakan ibadah puasa 30 hari dan berhari raya pada Rabu (6/7). “Oleh sebab itu, kami imbau warga NU bahwa takbiran malam Rabu, berdasarkan rukyat Senin petang ini di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Adapun penetapan 1 Syawal jatuh pada abu (6/7) tersebut, sekaligus menandai perayaan Lebaran bersamaan dengan warga Muhammadiyah. Diketahui, hasil hitungan Muhammadiyah dalam Maklumat Nomor 1 Tahun 2016 pada Senin (4/7) juga irtifak hilal minus satu derajat atau hilal belum wujud di seluruh Nusantara.

Baca Juga :   Seorang Imam yang juling & muridnya

Pemerintah juga Tetapkan Rabu

 

Menteri Agama RI Lukman Halim Saifuddin dalam pengumuman hasil sidang itsbat penentuan 1 Syawal 1437 H di Jakarta, Senin (4 Juli 2016).
Menteri Agama RI Lukman Halim Saifuddin dalam pengumuman hasil sidang itsbat penentuan 1 Syawal 1437 H di Jakarta, Senin (4 Juli 2016).

 

Sementara itu, Pemerintah secara resmi menetapkan 1 Syawal 1437 hijriah bertepatan dengan hari Rabu 6 Juli 2016.

Keputusan diambil setelah Tim Pemantau Hilal Kementerian Agama tak melihat adanya hilal atau bulan baru di seluruh titik pemantauan dari Sabang hingga Merauke.

“1 Syawal 1437 hijriah jatuh pada lusa, hari Rabu 6 Juli 2016. Ini yang disepakati bersama,” ungkap Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin pada Sidang Isbat Kantor Kementrian Agama di Jakarta, Senin (4/7).

Lukman mengatakan, berdasarkan perhitungan hisab, tinggi hilal masih minus dua derajat. Artinya, posisi bulan masih berada di bawah ufuk. Sehingga bulan baru tak dapat terlihat dengan metode rukyah atau penglihatan.

Menurutnya, pemerintah menggunakan metode hisab dan rukyat untuk menentukan bulan baru dalam kalender hijriah. Hasil hisab akan dikonfirmasi dengan rukyah. Sedikitnya 90 titik pemantauan hilal di seluruh nusantara.

Kedua metode ini dipakai sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia yang tertuang dalam Fatwa Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah.

Fatwa tersebut menyatakan, penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah dilakukan berdasarkan metode hisab dan rukyat oleh pemerintah yang dijalankan menteri agama dan berlaku secara nasional.

Dengan penetapan ini, umat Islam Indonesia akan merayakan lebaran fitri secara serentak. Sebelumnya Muhammadiyah jauh-jauh hari telah menetapkan Idul Fitri 1437 hijriah jatuh pada Rabu (6/7). (pds)

sumber republika.co.id