Minggu , 19 Agustus 2018

Plis, Berhentilah Menyebut-nyebut “Yang Di Atas”

” Kepunyaan Allah lah apa yang di langit dan apa yang di bumi,
dan Allah Maha Meliputi segala sesuatu… “

 

Ilustrasi by Al-Mubdi
Ilustrasi by Al-Mubdi

PANGGILAN dari SURAU – Sering dalam kehidupan sehari-hari kita mendengar, bahkan mengucapkan kalimat seperti ini:

“Sudah, kita pasrahkan saja sama Yang Di Atas.”

“Inget sama Yang Di Atas!”

“Semua tergantung pada Yang Di Atas.”

 

Ya, mulai saat ini jangan pernah lagi menyebut Tuhan sebagai “Yang Di Atas” karena tanpa  Anda sadari itu merupakan perkataan yang tidak sopan di hadapan Allah Azza Wajalla (bahkan dapat digolongkan sebagai syirik khafi/halus ! ).

 

Mengapa?

Karena frasa tersebut tanpa Anda sadari adalah bentuk personifikasi atau pemakhlukkan Allah. Karena pengertian dari kalimat itu tidak sesuai dengan salah satu sifat Allah, yaitu Qiyamuhubi Nafsihi, ‘berdiri dengan sendirinya’ yang jika diperdalam, pemaknaannya adalah bahwa Tuhan itu tidak bertempat dan tidak mengambil tempat.
Kita saat ini berada di sebuah ruangan (kamar atau rumah).  Di dalam kamar, kita dapat menunjuk lampu itu di atas dan lantai di bawah. Artinya, wujud kita lebih kecil daripada  kamar yang kita tempati. Kita mengambil tempat di dalam kamar. Bumi, planet-planet, galaksi, dan benda langit lainnya mengambil tempat di angkasa raya. Artinya, luar angkasa itu lebih besar daripada benda-benda antariksa itu.
Di sinilah letak kekeliruan kita ketika mengucapkan frasa Yang Di Atas sebagai kata ganti Tuhan.  Jika Allah itu benar-benar ada di atas, berarti Allah itu lebih kecil daripada angkasa yang maharuang itu. Ini tidak mungkin! Karena Allah itu Mahabesar. Allahu Akbar. Bukankah ini amat membuktikan kebenaran sabda Rasulullah, “Adiinul aqli”, agama itu (masuk) akal.
Di sisi lain, berkali-kali di dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah itu meliputi segala sesuatu dan ayat dengan pengertian meliputi.

 

QS. An-Nisa:126 : Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

QS. Fussilat:54 : Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.
QS. Al-Baqarah:19 : Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.

QS. Al-Baqarah: 115 : Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.

 

Makna kata meliputi jika dicermati jelas-jelas tidak mengacu kepada pengertian arah, tetapi mengacu pada keadaan menyelubungi. Lebih lanjut, Imam Abdul Qaahir bin Thoohir bin Muhammad al-Baghdadi menulis dalam karangannya yang masyhur “al-Farqu baina al-Firaq” pada fashal ke 3 dalam menerangkan segala usul yang telah disepakati (telah diijma`kan) oleh Ahlus Sunnah wal Jama`ah pada halaman 256 menulis antaranya :

Baca Juga :   Ini Rupanya Ceritanya, KENAPA JAMAAH INDONESIA SELALU DIPANGGIL "SITI RAHMAH"

 

Dan Ahlus Sunnah wal Jama`ah telah ijma` bahawasanya Allah SWT tidak bertempat dan tidak lalu atasNya masa/waktu, bersalahan dengan pegangan golongan al-Hisyaamiyyah dan al-Karaamiyyah yang mendakwa Allah bertempat di arasyNya. Dan telah berkata Amirul Mu’minin ‘Ali r.a.: “Sesungguhnya Allah ta`ala telah menciptakan arasy untuk menzahirkan qudratNya dan bukan untuk dijadikan tempat bagi zat-Nya”. Dia juga berkata:  “Dan adalah Allah ta`ala wujud tanpa tempat dan Dia sekarang atas sebagaimana sediakalanya”.

 

Simpulannya, Tuhan itu tidak bertempat dan tidak mengambil tempat. Segala sesuatulah yang mengambil tempat di dalam Tuhan.

Yang Diatas 2_panggilan dari surau
So, solusinya bagaimana?

Ya, sangat sederhana.  Langsung saja sebut Nama-Nya: Tuhan atau Allah SWT.  (pds)
sumber pusakamadinah.org
via berbagiyangbaik.blogspot.co.id