Senin , 19 Agustus 2019

PUASA SYAWAL Atau BAYAR QADHA’ DULU

Ilustrasi. foto Mitra Wakaf Indonesia

 

PANGGILAN dari SURAU – Untuk permasalahan ini Ulama berbeda pendapat, sesuai dengan ijtihad mereka masing-masing.

1. QADHA’ DAHULU

Sebagian Ulama berpendapat lebih afdhol bila didahulukan mengerjakan terlebih dahulu puasa yang hukumnya wajib, setelah hutang puasa Ramadhan terpenuhi, barulah mengejar yang hukumnya sunnah.

Hanya saja masalahnya timbul jika jumlah puasa Qadha’ yang harus dibayarkan cukup banyak. Misalnya pada kasus wanita yang nifas di bulan Ramadhan, bisa jadi sebulan penuh Ramadhan memang tidak berpuasa. Maka tidak memiliki kesempatan berpuasa Syawal.

2. PUASA SYAWAL DAHULU

Sebagian Ulama ada juga yang memandang lebih baik puasa sunnah Syawal terlebih dahulu baru kemudian puasa qadha’ karena pertimbangan waktu dan kesempatannya.

Mereka berpendapat Puasa sunnah bulan Syawal itu waktunya terbatas hanya selama sebulan saja. Sedangkan waktu yang disediakan untuk mengqadha’ puasa Ramadhan terbentang sangat panjang sampai sebelum datangnya Ramadhan tahun berikutnya.

3. NIAT QADHA’, OTOMATIS DAPAT PAHALA PUASA SYAWAL

Ada juga pendapat yang lain lagi, mereka berangkat dari pemahaman bahwa yang dimaksud dengan puasa 6 hari bulan Syawal itu lebih kepada waktunya saja, bukan sebuah ibadah khusus yang spesifik. Maka jika seseorang melakukan puasa apapun di bulan syawal, entah apapun itu motifnya apakah puasa senin kamis, puasa daud, puasa bidh atau bahkan puasa qadha’, maka orang tersebut tetap mendapat keutamaan puasa di bulan syawal sesuai hadits diatas, yang penting di bulan Syawal itu ada 6 hari yang dilaluinya dengan berpuasa.

Baca Juga :   Ini Alasannya, Kenapa Para Imam Mazhab TIDAK MEMAKAI HADITS BUKHARI MUSLIM

————————–————
Maka disarankan bagi yang mampu dan kuat, maka sebaiknya niat itu satu-satu, agar mendapatkan pahala yang sempurna.
Artinya kalau mampu, maka puasa qadha’ dulu baru melakukan sunnah syawal, dengan catatan masih masuk bulan syawal.
Atau puasa syawal dulu, baru dilanjutkan puasa qadha’, karena puasa syawal waktunya pendek hanya sebulan, jikalau ingin mengqadha’ Ramadhan di bulan lain, hukumnya boleh, karena waktunya fleksibel selama setahun hingga Ramadhan berikutnya. (Kalau terlambat terkena denda fidyah).
Kalau merasa kurang mampu, maka boleh menggunakan pendapat ketiga.

Pendapat mana pun yang diambil, kesemuanya mempunyai dalil dan argumen yang bisa diterima. Tanpa perlu menjelekkan saudara sesama muslim hanya karena perbedaan pendapat dan sudut pandang yang bersifat ijtihadi. Kalau ijtihad kita benar, kita akan dapat 2 pahala. Tapi kalau ternyata salah, maka kita tidak berdosa bahkan masih tetap dapat 1 pahala. (pds)

sumber pondok habib