== [ Close Klik 2x ] ==
Selamat Datang

Rutin Amalkan ini, LANGKAH BILAL TERDENGAR NABI DI SURGA

Ternyata yang membuat Bilal bin Rabbah masuk surga, bukanlah karena dia menjadi muadzin kesayangan Rasulullah selama hijrah di Madinah. Amalan inilah yang membuat terompahnya terdengar Nabi SAW di surga jauh sebelum Bilal wafat.

 

Ilustrasi wajah Bilal bin Rabah. - captured from "Allah Ahadun Ahad: Bilal ibn Rabah"
Ilustrasi wajah Bilal bin Rabah. – captured from “Ahadun Ahad: The Story of Bilal ibn Rabah”

 

PANGGILAN dari SURAU – Dalam sebuah riwayat yang shahîh dinyatakan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ لِبِلاَلٍ عِنْدَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ عِنْدَكَ فِي اْلإِسْلاَمِ مَنْفَعَةً فَإِنِّي سَمِعْتُ اللَّيْلَةَ خَشْفَ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ بِلاَلٌ مَا عَمِلْتُ عَمَلاً فِي اْلإِسْلاَمِ أَرْجَى عِنْدِيْ مَنْفَعَةً مِنْ أَنِّي لاَ أَتَطَهَّرُ طُهُوْرًا تَامًّا فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ وَلاَ نَهَارٍ إِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُوْرِ مَا كَتَبَ اللَّهُ لِيْ أَنْ أُصَلِّيَ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, “Rasulullâh bersabda kepada Bilâl setelah menunaikan shalat Subuh, ‘Wahai Bilâl, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam! Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga.’

Bilâl Radhiyallahu anhu menjawab, ‘Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukan shalat (sunat) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.’ [HR Muslim]

Riwayat lain dari HR Tirmidzi menyebutkan begini :

“Pada suatu pagi, Rasulullah Saw memanggil Bilal seraya berkata, ‘Hai Bilal! Dengan apa engkau mendahuluiku ke surga? Tidak lah setiap kali aku masuk surga, kecuali aku mendengar suara terompahmu di hadapanku. Tadi malam aku juga masuk surga, dan akupun mendapatkan suara terompahmu di hadapanku.

Bilal menjawab, ‘Ya Rasulullah tidaklah aku adzan kecuali aku pasti shalat dua rakaat, dan tidaklah aku terkena hadats kecuali aku berwudhu pada saat itu juga, dan aku berpandangan bahwa Allah memiliki hak dua rakaat atasku.’ Rasulullah bersabda, ‘Dengan kedua rakaat itulah engkau mendahuluiku ke surga’.” (HR. at-Tirmidzi).

“Shalat sunnah setelah wudhu” adalah jawaban Bilal atas pertanyaan Rasulullah tentang amalan unggulannya. Bilal tak menjawab pengorbanannya diseret di atas pasir panas dulu, ia juga tak menjawab azan merdu dari lisannya yang mengumpulkan umat Muslim untuk Shalat, ia malah menjawab “Shalat sunnah setelah wudhu” yang dilakukannya kapan pun setiap ia selesai berwudhu.

Konsisten adalah poin plus dari shalat sunnah setelah wudhu bilal. Amalannya mungkin tidak besar secara kuantitas pahalanya, namun ia melakukannya secara istiqamah, dan justru amalan kecil yang dilakukan konsisten lah yang paling diandalkan untuk membuat seorang Bilal masuk surga.

Hukum shalat sesudah wudhu adalah sunnah mu’akkad, sunnah yang ditekankan unuk dilakukan di segala waktu, siang maupun malam. Dasarnya adalah hadits Abu Huraira r.a.

Baca Juga :   Kalau Masih Ngotot Teraweh 8 Rakaat, Baca Tulisan Ini

“Bahwa Nabi SAW pernah berkata kepada bilal pada waktu shalat shubuh, ‘Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling diharapkan pahalanya yang telah engkau kerjakan dalam Islam? Karena aku mendengar suara terompahmu di hadapanku di surga (dalam mimpi tadi malam).’ Bilal berkata, ‘Aku tidak pernah melakukan amal yang lebih memiliki harapan pahala (selain kebiasaanku) bahwa setiap kali berwudhu di siang maupun malam hari, pasti aku shalat dengan wudhu itu sebatas yang ditentukan bagiku’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Imam an-Nawawi r.a mengungkapkan, “Hadits ini mengandung penjelasan tentang keutamaan shalat sesudah wudhu, bahwa hukumnya adalah sunnah, dan itu boleh dilakukan di waktu larangan, ketika matahari terbit, di waktu istiwa’, ketika matahari tenggelam, sesudah shalat shubuh dan sesudah shalat ashar. Karena ia termasuk shalat yang memiliki shalat tertentu.”  (pds)

 

Dari Berbagai Sumber :
Kumpulan Shalat Sunah dan Keutamaannya/DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani/Darul Haq


Link Sumber
:
https://recyclearea.wordpress.com/2013/06/29/hikmah-dan-teknologi-dibalik-sandal-bilal/
https://www.islampos.com/bilal-mendahului-rasulullah-masuk-surga-dengan-shalat-sunnah-198937/
http://www.fimadani.com/terompah-yang-terdengar-di-surga/

Tentang BILAL bin RABAH :

Bilal bin Rabah, budak berkulit hitam yang lahir 43 tahun sebelum Hijrah. Berasal dari Habsyah. Ayahnya bernama Rabah, ibunya bernama Hamamah. Seorang budak perempuan berkulit hitam tinggal di Mekah. Sebab itu, sebagian orang pada waktu itu memanggilnya dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam).
Bilal besar di Mekkah sebagai budak milik bani Abduddar. Saat ayah dari keluarga itu meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir. Pada waktu itu, budak bisa diwariskan kepada keturunan selanjutnya.
Saat Islam datang di Mekkah dan rasulullah SAW mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Allah berkenan memberikan hidayah kepada Bilal untuk memeluk Islam. Bilal termasuk orang-orang pertama yang emmeluk Islam. Hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk Islam, antara lain Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.
Mengetahui Bilal masuk islam, siksaan demi siksaan diberikan kepada Bilal dari tuannya. Mulai dari dijemur dibawah terik matahari, ditindih batu, hingga ditali menggunakan tali-tali kasar yang menyakiti kulitnya. Siksaan ini terus dia terima hingga Abu Bakar Ash Siddiq memerdekakannya.