Minggu , 19 Agustus 2018

Sang Imam Pasukan Militer Ratu Elizabeth

Asim Hafiz, imam pasukan muslim Inggris di Afghanistan.  (foto: captured from documentary film :Faith on the Frontline)

 

PANGGILAN dari SURAU – Matahari sudah menyelinap. Dan malam sudah merayap di bukit-bukit Gurun Helmand, Afghanistan. Tapi seketika kegelapan itu sirna.

Dari ufuk barat Lashkar Gar, ibu kota provinsi Helmand, sorot lampu memancar. Menerangi sekelilingnya. Cahaya itu berasal dari Camp Bastion, pangkalan militer tentara Britania Raya.

Sinaran itu memantulkan bayangan sekelompok pasukan yang hilir mudik. Ada yang berpakaian lengkap, ada pula yang telah bersantai dengan kaos abu-abu.

Di antara tubuh-tubuh kekar, muncul sesosok pria bergamis. Dia berjalan menyusuri setiap tenda barak pasukan Inggris. Tanpa pengawalan.

Lelaki berkopyah itu lantas memasuki salah satu tenda, mengagetkan empat pria yang di dalamnya.

“Assalamualaikum,” kata pria bergamis itu.

Di dalam tenda empat orang pasukan Britania Raya yang sedang duduk di dipan tentara membalas salam. Senyum mengembang.

Tak lama berbincang, waktu salat Maghrib tiba. Usai berwudlu, kelimanya menuju sebuah tenda yang dikhususkan untuk salat.

Seorang tentara pria berkulit gelap mengumandangkan azan tanpa pengeras suara. Suaranya mengalun syahdu. Pria bergamis duduk paling depan, bersiap jadi imam.

Camp Bastion bukanlah lokasi yang asing bagi pria bergamis bernama Asim Hafiz itu. Sejak 2005, dia ditunjuk sebagai imam bagi para tentara Muslim Britania Raya. Dia akan menjadi salah satu dari 657 pendamping keagamaan yang ditunjuk Ratu Elizabeth.

 

Berdoa sebelum bertugas. (foto: captured from youtube)
Asim Hafiz berdoa bersama para prajurit muslim Inggris di Afghanistan sebelum bertugas. (foto : captured from documentary film Faith on the Frontline)

Ditentang dan Memicu Kontroversi

Keputusannya menjadi imam bagi pasukan Inggris di Perang Iraq berbuah kontroversi di kalangan komunitas Muslim Inggris.

“Bagaimana mungkin, sekelompok Muslim justru berperang melawan Muslim di negara Islam?” kata sebagian orang dari komunitas Muslim Inggris.

Seorang kawannya bahkan menyarankan untuk tidak mengambil posisi itu. Menurut kawannya, posisi Asim sebagai imam bagi tentara Inggris terlampau beresiko.

“Awalnya bangga ditunjuk menjadi imam bagi para tentara Muslim. Tapi, komentar komunitas Muslim bertolak belakang. Ini bencana,” ucap dia berseloroh.

Meski ditentang, niatnya menjadi imam bagi tentara Inggris Raya yang berperang telah bulat. Hanya berlatar belakang sebagai pendamping spiritual bagi tahanan di Wandsworth Prison, dia berangkat ke Timur-Tengah.

Semangat pria kelahiran 1976 itu bergelora. Ada semacam panggilan jiwa saat ke Iraq dan Afghanistan. Tapi, panggilan semacam apa, belum juga diketahuinya.

Setengah tahun menjadi pendamping dan imam bagi tentara Muslim asal Britania Raya batinnya mulai tergugah. 1 Juli 2006 menjadi tanggal yang mengenang di benaknya.

Di hari itu, seorang tentara Muslim Inggris, Kopral Jabron Hashmi terbunuh di Afghanistan. Sebuah pertanyaan terlintas seketika.

“Mengapa aku direkrut sebelum kejadian ini? Mengapa Allah menginginkanku melihat kondisi ini? Aku berpikir tentang keluarga mereka, anak-anak yang mereka tinggalkan dan siapa yang mengajari mereka beribadah,” kata dia saat diwawancarai The Huffington Post.

Pertanyaan itu mengendap di pikiran dan batinnya. Dia tak bisa menjawab, apa yang harus dikerjakan.

Empat tahun berlalu. Jawaban itu mulai tersibak. Di 2010, untuk pertama kalinya, dia mendapat kesempatan datang dan berbincang dengan 20 warga lokal Afghanistan.

Mereka berbincang dengan sikap saling waspada. Hingga akhirnya 20 orang warga yang dia temui terkejut karena mengetahui Asim seorang Muslim.

“Mereka kemudian bertanya mengenai Islam di Inggris, masjid dan kegiatan umat Muslimnya,” ucap dia.

Pertanyaan warga lokal inilah yang menyibak pertanyaannya selama ini. Dia berpendapat perlu upaya komunikasi dan meningkatkan kepemahaman diantara kedua belah pihak.

“Aku harus menjadi jembatan antara warga lokal Afghanistan dengan tentara Inggris,” kata dia.

Baca Juga :   Lailatul Qadar Tahun Ini Jatuh pada Malam 21 atau 27 Ramadhan?

 

‘Jihad Adalah Melihat Perdamaian’

Bersama prajurit inggris nonmuslim.
Asim Hafiz bersama tentara non-muslim Inggris di Camp Bastion, Afghanistan. (foto : captured from documentary film Faith on the Frontline)

 

Bertugas di Lashkar Gar bukanlah perkara mudah. Kondisi kota yang mencekam dan penuh ancaman menjadi beban. Itulah yang dirasakan Asim. Setiap kali berkunjung ke warga lokal dia harus mengenakan rompi dan helm anti peluru.

Kondisi ini berlipat bagi tentara Muslim asal Britania Raya. Pasalnya, kebutuhan mereka sebagai Muslim kerap tak diperhatikan pemangku kebijakan.

Para tentara Muslim tidak mendapat fasilitas beribadah, daging halal, dan kerap tak mendapat kesempatan beribadah salat. Asim memprotes kondisi ini.

“Aku harus mengadvokasi mereka (tentara Muslim),” kata dia.

Kondisi ini sempat dia keluhkan ke petugas non-pemerintah yang bertugas di lapangan. Dia menanyakan kebijakan ini. Tapi, belum ada jawaban pasti hingga masa liburnya tiba.

Dua pekan masa liburnya selesai, sebuah pesan elektronik menahannya. Isinya, dia harus menetap di Camp Bastion.

“Tak usah membongkar barang bawaannu,” ucap Asim menirukan pesan dalam surat elektronik itu.

Ya, setelah segala kegelisahan terhadap kebijakan diskriminatif itu, Asim diminta “memperbaiki” kebijakan untuk tentara Muslim asal Britania Raya di Camp Bastion, Afghanistan.

Permintaan ini diterimanya dengan kebanggaan. Dia melakukan serangkaian dialog dengan militer agar memberi tempat ibadah bagi tentara Muslim di Camp Bastion. Selain itu, mengupayakan adanya makanan halal bagi tentara Muslim.

“Dan juga militer Inggris harus tahu perayaan yang dilakukan warga Muslim sesuai penanggalan Islam,” kata dia.

Sejak saat itulah perannya bertambah. Selain menjadi imam bagi para militer Muslim, dia juga menjadi penasehat Kepala Staf Pertahanan bidang kajian Islam.

Dalam jabatannya itu, dia menerangkan kondisi politik dan militer yang kerap tak memahami kondisi Islam. Bagi dia, dunia Barat kerap mendapatkan kesalahpahaman mengenai Islam.

“Perjalananku ke Afghanistan adalah jihad pribadi. Banyak orang yang berpikir jihad ialah berperang dan membunuh. Itu tidak benar. Tujuan utama dari jihad adalah melihat perdamaian,” kata pria yang juga penghafal Alquran.

Sejak 2010-2014, Asim hanya terhitung tiga kali kembali Inggris. Dia sibuk menjalani misi perdamaian dan mempererat ikatan komunikasi militer Britania Raya dengan warga setempat.

Walau hanya tiga kali sempat pulang ke kampung halamannya, pria keturunan India itu mendapat ingatan istimewa. Di Januari 2014, ia mendapat penghargaan khusus dari Kerajaan Britania Raya, Orders of the British Empire (OBE).

Ini adalah penghargaan yang diberikan Kerajaan Britania Raya kepada Asim karena jasanya mendukung operasi militer Britania Raya di Afghanistan.

“Aku berharap, penghargaan ini memperkuat dan membangun hubungan antara tentara dan komunitas Muslim di Britania Raya. Meningkatkan pemahaman dan sikap saling menghormati antarpemeluk agama dan budaya di tingkat nasional maupul global adalah salah bekal penting untuk kedamaian dan stabilitas dunia,” kata Asim usai mendapatkan perhargaan itu.

Kini, pria yang sedari umur 10 tahun mempelajari Islam ini masih kerap mengunjungi Afghanistan. Dia kerap berbagi informasi dengan penduduk lokal mengenai kondisi Islam di Inggris.

“Sangat senang bisa melihat orang-orang dari Afghanistan dan luar Afghanistan bisa datang dan bekerja sama. Mereka berbincang, mereka bercanda, ini komunikasi luar biasa,” kata dia dalam video dokumenter Faith on the Frontline. (pds)

 

sumber The Huffington Post, dream.co.id

 

Perjalanan Sang Imam ini didokumentasikan dalam film dokumenter berdujul Faith on the Frontline. Berikut videonya yang dirilis oleh Armed Forces Muslim Association via Community Channel TV :