== [ Close Klik 2x ] ==
Selamat Datang

Yang Menghina Dirinya Justru Dikasih Hadiah, ABUYA MALIKI

abuya malikiMAJALAH Aljami’ah Almadinah Almunawwaroh, pernah memuat sebuah artikel dari seorang pakar, yaitu Dr Abdul Qodir Assindi (Madinah) yang berisi kecaman, hinaan, dan penghakiman terhadap pemikiran dan pribadi Sayyid Muhammad Alawi Almaliki, sebagai propaganda yang mengarah pada perbuatan bid’ah.

______________________________
Prof  Dr  Al-Muhaddits as-Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki
(para muridnya di Indonesia mamanggil dg panggilan Abuya Maliki) adalah ulama yang sangat dihormati di dalam satu negara yang menganut faham Wahabi, 
Saudi Arabia.  Besarnya pengaruh ulama yang mendalami madzhab Maliki ini berlangsung sejak dahulu. Lima kakek pendahulunya merupakan pemuka madzhab Imam Maliki di Makkah. Raja Saudi Arabia Faishal, tak akan membuat kebijakan terkait dengan Masjidil Haram sebelum berkonsultasi dengannya. 

Beliau belajar di al-Azhar Mesir dan memperoleh gelar Doktor pada usia 25 tahun, yang merupakan orang Saudi pertama yang mencapai gelar akademik tertinggi pada usia termuda. Sebagai seorang akademisi, ia telah mengarang lebih dari 100 kitab. Muridnya tersebar di seluruh dunia, terutama berasal dari Indonesia, Malaysia, Mesir, Yaman dan Dubai. Mereka yang belajar di pesantrennya difasilitasi penuh olehnya.
_________________________

Tentu saja artikel itu mendapat banyak perhatian publik sekaligus mengundang keresahan umat. Sehingga beberapa ulama’ dan tokoh-tokoh pembesar menelepon seraya menghibur Sayyid Muhammad, “Jangan risau dan tidak usah menghiraukan tulisan Assindi”, tidak ketinggalan beberapa santri beliau juga merasa geram dengan ulah Assindi.

Namun Syaikh Muhammad hanya menanggapi dengan senyum. Selang satu bulan berikutnya, Sayyid Muhammad mengajak beberapa santri pergi ke Madinah, sebelum berangkat beliau mmerintahkan agar memasukkan lembaran-lembaran uang kertas ke dalam tas. Sesampainya di jalanan kota Madinah, beliau berhenti di sebuah rumah. Para santri tidak ada yang tahu rumah siapa itu. Setelah disambut oleh tuan rumah, terlihat adanya perbincangan yang cukup akrab antara Sayyid Muhammad dan tuan rumah, sehingga terkesan keduanya sudah kenal lama dan akrab.

“Maaf, Apakah benar ini rumah tuan Dr Abdul Qodir Assindi?” Tanya Sayyid Muhammad.

“Iya betul. Saya sendiri,” Jawab tuan rumah.

“Kalau begitu, mohon terimalah ini,” Kata Sayyid Muhammad sambil menyerahkan satu tas uang yang sudah dipersiapkan dari rumah.

Baca Juga :   Khutbah Imam Besar Katolik Ortodoks ini, Bikin Gempar Dunia

Rupanya keduanya belum saling mengenal, dan ternyata rumah itu adalah rumah Dr. Abdul Qodir Assindi yang beberapa waktu lalu telah mengecam habis-habisan Sayyid Muhammad lewat tulisannya di Majalah Aljami’ah Almadinah Almunawwaroh.

Setelah memberikan tas yang berisi uang tersebut, Sayyid Muhammad langsung berpamitan, Sehingga Dr. Abdul Qodir Assindi belum berkesempatan menanyakan nama tamunya. Ia juga sama sekali tidak menyangka bahwa tamu yang datang memberinya uang dalam jumlah yang cukup banyak itu adalah Sayyid Muhammad, orang yang telah ia cabik-cabik nama baik dan harga dirinya di media.

Tidak lama kemudian, terlihat Assindi lari mengejar dan menghampiri Sayyid Muhammad yang saat itu masih ada di jalan depan, lalu ia merangkul Sayyid Muhammad dan memeluknya erat, sambil sesunggukan ia berkata, “Anda tentu Sayyid Muhammad Almaliki, kini saya yakin sepenuh hati, bahwa Anda adalah keturunan Rasulullah, sebab tidak ada yang membalas cacian dan hinaan dengan hadiah, kecuali ia adalah keturunan Rasulullah. Saya tidak meragukan lagi keagungan pribadi Anda wahai Sayyidi.”

Assindi larut dalam haru, ada rasa tak percaya, ada kekesalan, ada rasa malu, ada kekaguman yang besar, semua berpadu dalam satu nuansa yang membawa jiwa dan hatinya menjadi yakin bahwa orang yang dihadapannya adalah benar-benar orang pilihan, berhati mulia dan mempunyai pribadi yang mengagumkan. Sayyid Muhammad bagi Assindi adalah orang yang memiliki kebesaran hati yang sepadan dengan ketinggian ilmunya, begitu legowo memaafkan dirinya yang jelas-jelas telah mempermalukannya melalui media. Anggapan dan tuduhan sebagai penyebar bid’ah hanyalah kebohongan semata. Sungguh luar biasa.

Para santri yang saat itu diajak Sayyid Muhammad ke Madinah yang ternyata untuk menemui Dr. Abdul Qodir Assindi merasa kagum dan bangga atas apa yang mereka saksikan. Sang guru telah mempertontonkan sesuatu yang luar biasa, sebuah keteladanan di hadapan mereka. Lisanul hal afshohu min lisanil maqol. (pds)

__________________
sumber tentang islam

_________________________
* Wallaahu a’laam bish-shawabi
(Dan Allah Maha Tahu yg benar / yg sebenarnya)