Minggu , 19 Agustus 2018

Selama 30 Tahun, NENEK INI SHALAT DI ATAS TROTOAR

 

Shalat di trotoar
Rosmiza (57) saat menunaikan shalat ashar di trotoar Jl Gatot Subroto, Medan.

PANGGILAN DARI SURAU – Nama beliau Rosmiza, 57, perempuan yang sudah layak disebut nenek ini biasa berjualan kue-kue di pinggiran Jalan Gatot Subroto, Medan Sumatera Utara.  Di jalur protokol yang tidak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan, deru mesin  dan asap knalpot ini, dagangannya lumayan laris.  Maklum kan ini wilayah ramai penduduk. Namun yang menarik di sini, bukan caranya berjualan itu, melainkan bagaimana cara dia beribadah.

“Ya begitu adzan, saya langsung gelar sajadah di atas trotoar ini, ” ujar Rosmiza sebagaimana dilansir unikbaca.com. Gerobak kecil tempatnya berdagang itu, memang tepat berada di atas trotoar. Tempat yang dimaksudnya adalah persis ada di samping gerobak kecilnya.

“Sudah 30 tahun saya berdagang di sini,” lanjut Rosmiza lagi. “Alhamdulillah,  selama itu pula saya tak pernah meninggalkan shalat. ” Kendati untuk itu dia harus melakukannya di atas trotoar di pinggir jalan raya. Terik mentari dan guyuran hujan bukanlah alasan baginya untuk tidak menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah.

Suara knalpot sepeda motor dan bunyi riuh klakson kendaraan tak sedikit pun mengurangi kekhusukannya. Jiwanya tetap tenang mengucap seribu doa dan syukur kepada Ilahi. “Sholat dimana pun akan sama saja, karena bukan suasana yang pengaruhi doa saya,” ucapnya sembari tersenyum simpul.

Air wudhu didapatnya dari toko kue atau dealer mobil yang tak jauh dari tempatnya berdagang. Jika hujan, dia solat di teras ruko yang terhindar dari hujan. “Tak ada alasan untuk tidak sholat,” tegasnya. Nenek empat cucu ini sempat meneteskan air mata ketika menceritakan kisah hidup yang belum bisa dikatakan sejahtera.

Baca Juga :   Ini Alasannya, MENGAPA RASULULLAH MELARANG PAKAIAN TRANSPARAN

Dia berusaha sambil berdoa, itu yang menurutnya sangat penting. Hingga dia tak pernah merasa pernah terhimpit masalah berat. Dia hadapi semua dengan senyum dan syukur. Rosmiza sehari-hari berdagang lemang, kue timpan dan nagasari bersama suaminya.

Lemang bukanlah buatannya, melainkan dia membelinya dari orang lain. Dia hanya membuat kue tambahan untuk memperbanyak dagangan. Ketika pagi menjemput, dia berdagang di Pasar Kampung Lalang, tetapi sehabis solat Dzuhur dia berdagang di Jalan Gatot Subroto, tepat di seberang Hotel Alpha Inn, Medan.

Setiap harinya, dia menyelesaikan solat dua waktu (Ashar dan Maghrib) di pinggir Jalan Gatot Subroto, tepat di sebelah sepeda dagangannya. Tak banyak yang dia dapat per hari, tetapi cukup memenuhi kebutuhan hidup hariannya.

Bahkan, dia sudah menyekolahkan anaknya hingga sederajat sekolah menengah atas (SMA) dari hasil berdagang lemang. Dia sebenarnya mau menguliahkan anak-anaknya, tetapi sayangnya tak satu pun anaknya yang berniat mengecap bangku kuliah.

Wajah seorang perempuan yang masih berseri ini percaya kalau hidupnya akan berarti jika terus taat kepada Allah SWT. “Dunia ini berapalah lamanya, dan saya tidak akan dapat apa-apa dari sini. Kalau mati, akan sirna semua,” ujarnya sembari menatap nanar ke arah lalu lalang kendaraan. (pds)

 

sumber  unikbaca.com